PT Toyota Astra Motor (TAM) berharap pemerintah dapat mempertahankan keberlanjutan insentif di sektor otomotif tahun ini, guna membantu pemulihan pasar mobil nasional yang masih berada dalam tekanan. Harapan tersebut sejalan dengan upaya industri otomotif untuk kembali mendorong pertumbuhan, setelah kinerja penjualan sepanjang 2025 mengalami perlambatan. Direktur Marketing TAM, Jap Ernando Demily mengatakan pihaknya tetap optimistis menatap kondisi pasar yang menantang. Toyota Veloz Hybrid Namun, pemulihan industri tidak bisa dilakukan sendiri dan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak yang terlibat. “Sebagai bagian dari industri, kami berupaya untuk terus optimis market bisa mulai recovery tahun ini. Lebih dari itu, ini juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh pihak yang terlibat untuk saling berkolaborasi dan berkontribusi dalam menumbuhkan pasar,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2025). Ia menilai, peran pemerintah sebagai pemangku kepentingan jadi salah satu faktor penting dalam mendorong pemulihan industri otomotif nasional. Dukungan kebijakan dinilai dapat mempercepat proses tersebut. “Kami juga berharap pemerintah sebagai stakeholder bisa memberikan inisiatif baru guna mempercepat upaya recovery industri otomotif nasional di tahun ini,” kata Ernando. Pabrik Toyota di Karawang Menurut Ernando, kebijakan insentif berkaitan erat dengan komponen pajak yang berpengaruh langsung terhadap harga jual kendaraan. Setiap perubahan di aspek tersebut akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat. “Pajak merupakan salah satu komponen krusial yang memengaruhi harga jual kendaraan secara langsung. Sehingga perubahan apapun pada komponen ini akan berdampak langsung pada harga jual, yang kemudian juga berkaitan dengan demand di pasar,” ucapnya. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Toyota berupaya menghadirkan solusi mobilitas yang tetap kompetitif bagi konsumen, menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. “Dengan mempertimbangkan kebutuhan mobilitas masyarakat yang beragam, Toyota selalu berupaya untuk menghadirkan tidak hanya sebuah kendaraan melainkan solusi mobilitas yang komprehensif dan kompetitif bagi masyarakat,” lanjut Ernando. Diketahui, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan ritel mobil baru sepanjang Januari–November 2025 hanya mencapai 739.977 unit, turun sekitar 8,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan wholesales tercatat sebanyak 710.084 unit, melambat 9,6 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Di sisi lain, sejumlah insentif otomotif diketahui telah berakhir per 31 Desember 2025, yang meliputi pembebasan bea masuk mobil listrik murni secara utuh, PPN 10 persen untuk mobil listrik murni, hingga PPnBM DTP mobil hybrid sebesar 3 persen. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengirimkan usulan insentif sektor otomotif untuk periode fiskal 2026 kepada Menteri Keuangan. Namun hingga pekan pertama Januari 2026, belum ada kepastian terkait kelanjutan kebijakan dimaksud. “Untuk otomotif, usulan insentif stimulus sudah kami kirim ke Pak Menkeu,” ujar Agus. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang