Tidak seperti dengan mobil penumpang yang umumnya rutin menjalani perawatan di bengkel resmi, kendaraan komersial seperti truk kerap ditangani bengkel langganan milik perusahaan atau bengkel independen Kondisi tersebut membuat bisnis layanan purnajual (aftersales) di segmen kendaraan niaga kerap dipandang tidak sebesar penjualan unit baru. Namun, PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) menyebut bisnis aftersales tetap memiliki peran penting bagi perusahaan. PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) memanfaatkan ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 untuk menampilkan sisi lain kendaraan komersial. Bahkan, meski hanya menyumbang sekitar 10-15 persen terhadap total pendapatan, lini usaha tersebut memiliki margin yang lebih tinggi dibanding penjualan kendaraan baru. "Kalau secara revenue, bisnis aftersales sekitar 10-15 persen, sedangkan 85-90 persen dari penjualan unit," ujar Vice President Director IAMI Anton Rusli saat ditemui di GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang, Selasa (4/8/2026). "Tapi kalau dari sisi profit memang sedikit lebih baik di aftersales. Tetapi tujuan utama aftersales ini bukan masalah profit, melainkan untuk mendukung agar mobil yang dibeli itu berjalan dengan baik. Bentuk tanggung jawab kita," lanjut dia. Menurut dia, aftersales menjadi bagian penting untuk memastikan kendaraan pelanggan tetap dalam kondisi prima sehingga produktivitasnya terjaga. "Kalau kendaraan pelanggan performanya tetap baik, mereka bisa terus menggunakan kendaraan kami. Pada akhirnya hal itu juga akan mendukung penjualan unit baru," kata Anton. Masih Kembali pada Tahun Pertama Bengkel Isuzu Berjalan Anton mengatakan, sekitar 70-80 persen kendaraan Isuzu masih menjalani perawatan di bengkel resmi pada tahun pertama setelah pembelian. Tingginya angka tersebut didorong program servis gratis yang diberikan kepada konsumen. Setelah masa servis gratis berakhir, sebagian pelanggan mulai beralih ke bengkel umum atau bengkel langganan. Meski demikian, pekerjaan yang bersifat heavy repair, seperti perbaikan mesin dan komponen utama, umumnya tetap ditangani jaringan bengkel resmi. "Kalau turun mesin atau heavy repair, bengkel umum biasanya tidak bisa mengerjakannya. Selain itu, suku cadangnya juga harus dari kami," ujar Anton. Ketersediaan Suku Cadang Untuk menjaga layanan purnajual, Isuzu menerapkan sistem perencanaan suku cadang berdasarkan populasi kendaraan yang masih beroperasi di lapangan. Isuzu di GIIAS 2026 Dari data tersebut, perusahaan dapat memprediksi jenis komponen yang paling banyak dibutuhkan sehingga distribusinya ke jaringan diler lebih tepat. Anton memastikan ketersediaan suku cadang tidak hanya untuk model terbaru, tetapi juga kendaraan yang sudah lama dihentikan produksinya. "Sebagai contoh Isuzu Panther. Meski sudah berhenti diproduksi sejak 2018/2019, tetapi sampai sekarang suku cadangnya masih tersedia," kata Anton.