Isuzu Panther sudah menghilang dari daftar mobil baru. Produksinya resmi dihentikan pada 2021, menandai berakhirnya perjalanan salah satu MPV diesel legendaris di Tanah Air. Meski begitu, pesonanya belum benar-benar pudar. Panther, khususnya varian Grand Touring dikenal tangguh, irit bahan bakar, dan biaya perawatannya relatif terjangkau. Kesempatan menjajal Panther Grand Touring 2016 di jalanan Jakarta menjadi pengalaman menarik. Di tengah dominasi mobil modern yang dipenuhi fitur elektronik, Panther menawarkan sensasi berkendara yang berbeda dan mengingatkan pada karakter mobil diesel era 2000-an. Isuzu Panther Grand Touring 2016 Desain Jika melihat tampilannya, desain Panther Grand Touring tergolong bermain aman dan tidak banyak ornamen yang membuatnya terlihat mencolok. Namun justru karakter tersebut menjadi kelebihannya saat ini. Desainnya terasa timeless sehingga tidak terlihat terlalu tua ketika diparkir berdampingan dengan mobil yang lebih muda. Perubahan paling mencolok dibanding Panther generasi sebelumnya adalah hilangnya ban serep di pintu belakang atau yang akrab disebut "konde". Pada Grand Touring, ban serep sudah dipindahkan ke kolong mobil sehingga buritan terlihat lebih modern dan bersih. Isuzu Panther Grand Touring 2016 Kabin Masih Nyaman Nuansa kabin yang ditawarkan cukup menyenangkan. Sebagai varian tertinggi, Panther Grand Touring sudah menggunakan jok kulit yang membuat interior terasa lebih premium. Ruang kabinnya juga masih menjadi salah satu keunggulan. Baris kedua terasa lega, sementara posisi duduk cukup nyaman untuk perjalanan jauh. Meski demikian, usia desainnya memang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. Beberapa panel menggunakan material plastik keras yang terasa sederhana dibanding MPV modern. Namun dari sisi fungsional, seluruh tombol mudah dijangkau dan visibilitas ke luar kabin tergolong baik. Isuzu Panther Grand Touring 2016 Mesin Diesel Di balik kap mesin terdapat mesin diesel 2.500 cc 4JA1-L turbo direct injection yang menghasilkan tenaga sekitar 79 Tk dan torsi 191 Nm. Di atas kertas, angkanya tidak besar jika dibandingkan mobil diesel masa kini. Namun karakter tenaga Panther bukan terletak pada akselerasi, melainkan torsi bawahnya. Saat mulai berjalan, mobil terasa mudah bergerak tanpa perlu menginjak pedal gas terlalu dalam. Bahkan ketika pedal kopling dilepas sedikit lebih cepat, mesin tidak mudah mati. Getaran khas mesin diesel masih sangat terasa. Saat langsam, getaran merambat hingga ke paha sehingga memberikan sensasi berkendara yang cukup berbeda dibanding mobil diesel modern. Isuzu Panther Grand Touring 2016 Ketika kecepatan meningkat, suspensi yang cenderung empuk membuat gejala limbung mulai terasa, terutama saat berpindah jalur atau melewati tikungan panjang. Meski demikian, karakter itu jadi nilai tambah saat melewati jalan bergelombang atau permukaan aspal yang kurang rata. Alasan Panther dicari bukan hanya karena kenyamanannya, tetapi juga reputasi mesin 4JA1-L dikenal sederhana dan minim komponen elektronik sehingga mudah dirawat. Dengan penggantian oli dan filter secara rutin, mesin ini terkenal cukup "bandel." Isuzu Panther Grand Touring 2016 Catatan Sebagai mobil yang sudah berumur 10 tahun, Panther Grand Touring tentu memiliki beberapa keterbatasan. Pertama ialah tenaga yang terasa kurang jika dibandingkan MPV modern. Fitur keselamatannya juga tergolong minim jika dibandingkan MPV modern. Mobil ini belum memiliki Electronic Stability Control (ESC), Traction Control dan Hill Start Assist. Namun Panther Grand Touring ini sudah dilengkapi kamera mundur. Meski tampilannya tidak menggunakan layar dashboard utama, melainkan muncul pada kaca spion tengah Kesimpulan Isuzu Panther Grand Touring 2016 bukan mobil yang menawarkan akselerasi tinggi atau fitur modern. Namun justru di situlah daya tariknya. Mobil ini mengandalkan keandalan mesin, konsumsi bahan bakar yang irit, kabin yang lapang, serta biaya perawatan yang relatif bersahabat. Karakter torsi bawah yang kuat juga membuatnya tetap nyaman digunakan di berbagai kondisi jalan.