Perjalanan menggunakan mobil listrik untuk perjalanan jarak jauh semakin nyaman dengan bertambahnya jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Hal itu terlihat dari kegiatan "Turing Kemerdekaan" yang digelar Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) pada 15-17 Agustus 2026, yang menempuh rute Jakarta-Lampung. Sebanyak 23 mobil listrik murni dari berbagai merek mengikuti perjalanan dari Jakarta menuju Pahawang, Lampung, dengan jarak sekitar 600 kilometer untuk perjalanan pulang-pergi. Dalam perjalanan tersebut, KOLEKSI sekaligus memantau kondisi SPKLU yang digunakan peserta. Pengujian mencakup kemampuan mesin mengisi daya dan kondisi fasilitas di lokasi pengisian. Hasilnya mesin SPKLU yang disinggahi selama perjalanan secara umum dapat digunakan dengan baik. Sebanyak 23 mobil listrik murni anggota KOLEKSI mengikuti perjalanan dari Jakarta menuju Pahawang, Lampung. Tantangan Meski mesin pengisian berfungsi dengan baik, KOLEKSI menemukan persoalan yang cukup mengganggu pengguna, yaitu akses menuju SPKLU. Di beberapa rest area, jalur masuk justru terhambat truk besar yang mengantre atau parkir di sekitar pintu masuk. Kondisi ini ditemukan di KM 43A dan KM 68A Tol Jakarta-Merak, serta KM 68B dan KM 45B arah Merak-Jakarta. Padahal, setelah berhasil masuk ke rest area, area parkir yang disediakan untuk SPKLU dinilai cukup luas. Kondisi tersebut menjadi persoalan karena mobil listrik harus bisa mencapai titik pengisian daya dengan mudah. Terlebih, pengguna yang melakukan perjalanan jauh biasanya sudah memperhitungkan lokasi dan waktu pengisian baterai. Sebanyak 23 mobil listrik murni anggota KOLEKSI mengikuti perjalanan dari Jakarta menuju Pahawang, Lampung. Faktor Luar Ketua Umum KOLEKSI, Arwani Hidayat, mengatakan kendala di lapangan justru lebih banyak berasal dari faktor di luar mesin pengisian. "Secara teknis, mesin charger rata-rata merespons dengan daya output yang wajar. Namun, pengamatan kami menitikberatkan pada kendala non-teknis yang tak kalah krusial,” kata Arwani dalam keterangan resmi, Jumat (4/9/2026). “Akses masuk rest area yang kerap tertutup antrean truk besar sangat menyulitkan manuver mobil listrik menuju port charging maupun kendaraan lain yang membutuhkan keperluan ke rest area," katanya. Selain akses, Arwani juga meminta perhatian terhadap alat pemadam api ringan (APAR) di sekitar SPKLU. Komunitas menilai fasilitas keselamatan tersebut perlu disiapkan sesuai kebutuhan kendaraan listrik. "Kami juga mendorong penyedia SPKLU untuk segera memperbarui spesifikasi APAR yang memadai di lokasi agar sesuai dengan standar mitigasi kebakaran baterai EV, demi keamanan seluruh pengguna," katanya. Sebanyak 23 mobil listrik murni anggota KOLEKSI mengikuti perjalanan dari Jakarta menuju Pahawang, Lampung. Kemampuan pengisian Dari sisi kemampuan mengisi daya, hasil pemantauan KOLEKSI menunjukkan performa yang cukup baik. Salah satunya terlihat di SPKLU KM 13,5A Karang Tengah. Mesin pengisian merek Teison dengan kapasitas 200 kW mampu menyalurkan daya hingga 178 kW. Sementara itu, di KM 68A Serang, mesin dengan kapasitas 120 kW dapat menyalurkan daya sesuai kapasitasnya ketika digunakan oleh satu maupun dua nosel secara bersamaan. Namun, besarnya daya yang diterima mobil listrik tidak selalu sama dengan kapasitas maksimum mesin. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh kemampuan mobil menerima daya, kondisi baterai, serta penggunaan mesin pengisian. Karena itu, angka kapasitas 200 kW pada charger tidak otomatis berarti setiap mobil akan selalu mendapatkan daya 200 kW.