PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) mengaku belum memiliki rencana memasarkan kendaraan komersial listrik di Indonesia dalam waktu dekat meski secara global, perusahaan sudah punya produk dimaksud. Vice President Director IAMI Anton Rusli menjelaskan, hal tersebut seiring dengan berbagai pertimbangan internal perseroan mulai dari kesiapan ekosistem dan kelayakan bisnis. "Di Jepang Isuzu sudah punya kendaraan listrik. Cuma kapan sampai ke Indonesia, itu banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Salah satunya infrastruktur dan ekosistem kendaraan komersial," ujar Anton saat ditemui di GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang, Selasa (4/8/2026). Pekerja merakit komponen mobil di pabrik baru Isuzu, di Karawang, Jawa Barat, Selasa (7/4/2015). Pabrik Isuzu Karawang Plant berlokasi di kawasan Suryacipta City of Industry ini memiliki kapasitas produksi 52 ribu unit per tahun dan dapat dikembangkan menjadi 80 ribu unit per tahun. Selama ekosistem tersebut belum siap, Isuzu memilih terus meningkatkan efisiensi kendaraan bermesin diesel, baik melalui konsumsi bahan bakar yang lebih irit maupun emisi gas buang yang lebih rendah. "Dalam rangka mendukung produk yang lebih ramah lingkungan, kami terus berinovasi menghadirkan kendaraan yang lebih hemat bahan bakar dan menghasilkan emisi lebih rendah," kata Anton. Hitung-hitungan Bisnis Anton menjelaskan, keputusan menghadirkan kendaraan komersial listrik tidak hanya ditentukan kesiapan teknologi. Yang lebih penting, apakah kendaraan tersebut mampu memberikan keuntungan bagi pelaku usaha. Menurut dia, konsumen kendaraan niaga selalu menghitung total cost of ownership (TCO), yakni biaya kepemilikan kendaraan dibandingkan dengan pendapatan yang dapat dihasilkan selama kendaraan beroperasi. Pekerja merakit komponen mobil di pabrik baru Isuzu, di Karawang, Jawa Barat, Selasa (7/4/2015). Pabrik Isuzu Karawang Plant berlokasi di kawasan Suryacipta City of Industry ini memiliki kapasitas produksi 52 ribu unit per tahun dan dapat dikembangkan menjadi 80 ribu unit per tahun. "Prinsip kendaraan komersial itu harus terus berjalan, menghasilkan pendapatan, lalu memberikan keuntungan kepada pemiliknya. Itu yang menjadi pertimbangan utama," ujarnya. Oleh karena itu, menurut Anton, adopsi kendaraan komersial listrik baru akan berkembang apabila biaya kepemilikan dan operasionalnya dinilai mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan kendaraan konvensional. Modifikasi Lebih Sulit Di samping itu, kendaraan komersial listrik juga akan lebih sulit dimodifikasi dibandingkan model bermesin konvensional. Pabrik Isuzu di Kawasan Industri Suryacipta, Karawang Timur Ia mencontohkan praktik modifikasi dimensi kendaraan yang masih kerap ditemui di Indonesia berpotensi lebih rumit dilakukan pada kendaraan listrik karena harus memperhatikan posisi baterai dan sistem kelistrikan yang terintegrasi. "Saya yakin kendaraan listrik akan lebih sulit dimodifikasi dibandingkan kendaraan konvensional," kata Anton.