Isuzu dan Toyota resmi mengumumkan kerja sama dalam mengembangkan truk listrik berbasis sel bahan bakar atau Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) ringan pertama yang akan diproduksi massal di Jepang. Dikutip dari Carscoops, langkah strategis ini diambil untuk mengisi celah di sektor logistik perkotaan yang selama ini sulit ditembus oleh kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV), terutama untuk kebutuhan angkutan barang yang spesifik. Proyek ini nantinya akan menggunakan basis sasis ladder-frame dari Isuzu Elf EV (N-Series) yang sudah meluncur sejak 2023. Namun, sistem penggeraknya akan digantikan oleh teknologi hidrogen generasi ketiga milik Toyota. Isuzu Elf EV tampil di GIIAS 2024 Teknologi terbaru dari Toyota ini diklaim memiliki efisiensi 20 persen lebih baik dibandingkan sistem yang ada saat ini. Selain lebih efisien, sistem ini juga dirancang untuk memiliki daya tahan yang lebih lama, sehingga cocok untuk penggunaan komersial yang berat dan intensitas tinggi di area perkotaan. Lantas, mengapa harus hidrogen? Salah satu kendala utama truk listrik baterai di sektor logistik adalah kebutuhan daya tambahan untuk perangkat pendingin (refrigerator). Truk listrik Isuzu Elf EV alias NRR-EV mulai diproduksi Truk ringan yang digunakan untuk pengiriman ke supermarket atau minimarket biasanya membawa beban pendingin yang besar. Jika menggunakan baterai, daya akan cepat terkuras, yang pada akhirnya memangkas jarak tempuh secara signifikan. Belum lagi masalah durasi pengisian daya baterai yang memakan waktu lama, sehingga berpotensi mengganggu jadwal pengiriman yang ketat. Dengan hidrogen, proses pengisian bahan bakar hanya memerlukan waktu yang relatif singkat, hampir setara dengan mengisi solar pada truk diesel. Hal ini tentu memberikan fleksibilitas lebih bagi para pengusaha armada atau operator logistik. Truk listrik Isuzu Elf EV Selain nol emisi CO2, truk FCEV ini juga menawarkan keunggulan berupa getaran dan kebisingan yang jauh lebih rendah dibandingkan mesin diesel konvensional, sehingga menambah kenyamanan pengemudi saat bekerja. Meski teknologinya menjanjikan, tantangan terbesar saat ini tetap pada biaya produksi kendaraan yang masih tinggi serta infrastruktur pengisian hidrogen yang belum merata. Pihak Isuzu dan Toyota menyatakan bahwa kunci keberhasilan proyek ini adalah optimalisasi struktur kendaraan dan proses manufaktur untuk menekan harga jual nantinya. Rencananya, produksi massal truk hidrogen ringan ini akan dimulai pada tahun fiskal Jepang 2027, atau paling lambat sebelum 30 Maret 2028. Kerja sama ini sendiri bukan yang pertama bagi kedua raksasa otomotif tersebut, mengingat sebelumnya mereka juga telah berkolaborasi mengembangkan bus kota hidrogen, ERGA FCV. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang