Booth Isuzu di GIICOMVEC 2026 Hal ini diungkapkan Part & Services Business Solution Division Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Budhi Prasetyo. Ia menyebut, preferensi konsumen terhadap suku cadang sangat bergantung pada karakter part yang digunakan. GULIR UNTUK LANJUT BACA “Kalau yang sifatnya jarang diganti, mereka lebih prefer yang genuine karena lebih concern ke reliability,” ujar Budhi di GIICOMVEC, Kemayoran, Jakarta.Menurutnya, untuk komponen dengan siklus penggantian panjang atau yang berkaitan dengan sistem penting kendaraan, faktor keandalan masih menjadi pertimbangan utama. Dalam konteks ini, suku cadang genuine tetap menjadi pilihan karena dianggap lebih terjamin kualitas dan daya tahannya.Namun, situasinya berbeda untuk komponen yang bersifat consumable atau harus diganti secara berkala, seperti filter atau kampas rem. Pada jenis komponen ini, konsumen cenderung lebih sensitif terhadap harga.Budhi menjelaskan bahwa Isuzu telah menyiapkan beberapa opsi suku cadang resmi untuk menjawab kebutuhan tersebut, termasuk lini dengan harga lebih kompetitif.“Kita punya opsi untuk part yang harganya lebih kompetitif, memang lokal made. Tapi tetap resmi dari kita dan sudah melalui proses development,” katanya.Ia menambahkan, secara umum komposisi penggunaan suku cadang di pasar saat ini relatif berimbang antara produk impor dan lokal. Namun, angka tersebut tidak bisa diartikan sebagai pembagian yang kaku.“Secara kasar mungkin sekitar 50 persen impor, 50 persen lokal. Tapi itu tidak bisa dilihat detail karena tergantung jenis part dan kebutuhan konsumen,” jelasnya.Lebih lanjut, Budhi juga menegaskan bahwa tidak semua komponen memiliki pilihan yang sama. Ada suku cadang tertentu, terutama yang berteknologi tinggi atau berukuran besar yang hanya tersedia dalam versi genuine impor.Sebaliknya, untuk beberapa komponen lain seperti filter, konsumen bisa dihadapkan pada dua pilihan, yakni versi genuinedan versi yang lebih terjangkau. Artinya, tidak semua part memiliki tiga opsi sekaligus.Di sisi lain, Isuzu juga mengakui bahwa keberadaan produk aftermarket, termasuk suku cadang non-resmi, tetap menjadi bagian dari dinamika pasar. Namun perusahaan menekankan bahwa pihaknya terus memantau harga di pasar agar produk resmi tetap kompetitif.“Setiap part itu tidak bisa diratakan perbedaan harganya, karena sangat bervariasi. Kita juga melihat kompetitor, termasuk yang ada di aftermarket,” ujar Budhi. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Dengan kondisi tersebut, pola konsumsi suku cadang di kalangan pengguna kendaraan niaga menunjukkan bahwa keputusan tidak semata soal memilih yang paling murah atau paling asli. Lebih dari itu, pengguna mempertimbangkan fungsi, frekuensi penggunaan, serta risiko yang mungkin timbul jika memilih komponen tertentu.Pada akhirnya, preferensi sopir terhadap suku cadang menjadi cerminan kebutuhan nyata di lapangan—antara efisiensi biaya dan tuntutan keandalan kendaraan.