Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menyambut positif wacana pembelian motor listrik dengan uang muka atau down payment (DP) 0 persen yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi menilai skema tersebut dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin beralih dari sepeda motor bensin ke motor listrik. “Kalau itu menurut saya, (DP 0 persen) jadi kemudahan masyarakat mengakses untuk memiliki motor listrik,” ujar Budi, kepada Kompas.com, Senin (24/8/2026). Presiden Prabowo Subianto saat acara pluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8/2026). Menurut Budi, kemudahan pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas pasar motor listrik di Indonesia. Pasalnya, harga kendaraan bukan satu-satunya pertimbangan konsumen ketika membeli sepeda motor. Sebagian besar pembelian sepeda motor di Indonesia dilakukan melalui skema kredit. Karena itu, besaran uang muka dan cicilan bulanan dapat menentukan kemampuan masyarakat untuk memiliki kendaraan baru. DP 0 Persen Bisa Buka Akses Konsumen Booth motor listrik Pacific di GIIAS 2025 Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan pemerintah akan mendorong pembiayaan motor listrik dengan bunga cicilan yang lebih rendah sekaligus mengupayakan skema tanpa uang muka. “Kita akan turunkan apa itu? Bunga. Bunga cicilan kita turunkan untuk rakyat. Kemudian kita usahakan tidak pakai DP,” ujar Presiden Prabowo Subianto, saat meluncurkan Motor Listrik Nasional dan ekosistem pendukungnya di Cikarang (13/8/2026). Dalam hal ini, Budi juga menilai kombinasi bunga rendah dan DP 0 persen dapat menjadi salah satu kunci untuk mempercepat adopsi motor listrik. Motor TX3000 “Satu hal yang disampaikan Pak Prabowo adalah mengenai DP 0 persen dan bunga yang kecil. Mudah-mudahan hal tersebut bisa segera dijalankan sehingga masyarakat memiliki akses yang lebih mudah untuk membeli motor listrik," katanya. Menurutnya, kebijakan pembiayaan tersebut penting karena industri motor listrik masih menghadapi hambatan dari sisi lembaga pembiayaan. Lembaga Pembiayaan Masih Pertimbangkan Risiko Budi mengatakan perusahaan pembiayaan cenderung lebih selektif dalam memberikan kredit motor listrik. Ilustrasi subsidi motor listrik. Salah satu penyebabnya adalah persepsi risiko serta pasar kendaraan bekas yang belum terbentuk sekuat motor konvensional. “Dari dulu motor listrik memang mengalami hambatan, atau mungkin belum mendapatkan kepercayaan yang cukup dari lembaga pembiayaan,” ujar Budi. “Motor listrik ini mungkin masih terkendala dari sisi persepsi dan secondary market yang belum terbentuk seperti motor dengan mesin pembakaran internal,” ucap dia. Kondisi tersebut membuat kebijakan DP 0 persen tidak sesederhana menghapus uang muka bagi konsumen. Perlu ada mekanisme yang membuat perusahaan pembiayaan tetap yakin terhadap nilai dan risiko kendaraan yang dibiayai. Pasalnya, semakin kecil uang muka, semakin besar pula nilai pembiayaan yang harus ditanggung lembaga pembiayaan. Karena itu, skema tersebut perlu dibarengi dengan bunga yang kompetitif sekaligus pengelolaan risiko yang tepat. Bagi industri, kemudahan pembiayaan diharapkan dapat mengatasi salah satu hambatan utama konsumen untuk membeli motor listrik. Apalagi, pemerintah saat ini tengah mendorong Motor Listrik Nasional (Molinas) untuk memperluas penggunaan kendaraan listrik sekaligus membangun industri dan ekosistemnya di dalam negeri.