Perkembangan mobil listrik di Indonesia tidak hanya mengubah peta industri otomotif, tetapi juga perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi terus mempelajari karakter risiko mobil listrik yang berbeda dari kendaraan konvensional. Termasuk biaya perbaikan setelah mengalami kecelakaan. Perusahaan asuransi perlu mengumpulkan lebih banyak data klaim untuk mengetahui komponen apa saja yang paling berisiko mengalami kerusakan dan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaikinya. Head of Communication Asuransi Astra Laurentius Iwan mengatakan, industri asuransi masih berada dalam tahap pembelajaran untuk memahami karakter risiko mobil listrik di Indonesia. Chery Q menjadi salah satu mobil listrik kompak yang menawarkan sejumlah fitur untuk mendukung kebutuhan mobilitas harian, mulai dari ruang penyimpanan hingga teknologi konektivitas. "Mobil listrik ini kan baru booming dalam 2–3 tahun terakhir dan secara jumlah unit di Indonesia masih terbatas," katanya. Itu perlu waktu untuk belajar sebenarnya risiko-risiko mobil listrik itu seperti apa. Apakah perbaikannya lebih mahal, apakah baterai sering terbakar atau tidak," ujar Iwan kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu. Menurut Iwan, data dari kendaraan yang sudah beredar menjadi penting karena dapat digunakan untuk melihat pola risiko secara lebih jelas. Hal tersebut mencakup jenis kerusakan yang terjadi, komponen yang terdampak, harga suku cadang, hingga biaya pengerjaan di bengkel. Asuransi mobil Dampak Kerusakan akibat kecelakaan tidak selalu berhenti pada bagian bodi. Jika benturan mengenai komponen tertentu, biaya perbaikannya berpotensi meningkat. Iwan memberikan contoh pada bagian depan kendaraan, khususnya area yang berhubungan dengan sistem pengisian daya. "Kita memeriksa sebenarnya perbaikannya lebih mahal atau tidak. Sesimpel misalnya kalau mobil biasa tabrak depan, hanya membetulkan bumper depan, lebih murah. Tapi kalau mobil listrik tabrak depan, sampai kena tidak nih port untuk colokan listriknya? Kalau kena, berapa biaya penggantiannya?" kata Iwan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dipetakan perusahaan asuransi. Kerusakan pada charging port, misalnya, dapat membuat penanganan kendaraan tidak hanya berkaitan dengan perbaikan panel bodi. Komponen yang terhubung dengan sistem pengisian daya juga harus diperiksa untuk memastikan kendaraan dapat kembali digunakan secara normal. Sebanyak 23 mobil listrik murni anggota KOLEKSI mengikuti perjalanan dari Jakarta menuju Pahawang, Lampung. Data Klaim Semakin banyak mobil listrik yang beroperasi di jalan, semakin banyak pula data yang dapat dikumpulkan perusahaan asuransi. Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk melihat pola kecelakaan dan biaya perbaikan secara lebih akurat. Perusahaan asuransi juga perlu membandingkan karakter risiko mobil listrik dengan kendaraan bermesin pembakaran internal maupun mobil hybrid. Semakin banyak data yang terkumpul, semakin jelas pula gambaran risiko yang dapat digunakan industri asuransi dalam menyusun perlindungan untuk mobil listrik.