Penggunaan kendaraan listrik di Indonesia terus meningkat. Namun, pertumbuhan tersebut turut menghadirkan tantangan baru dalam aspek keselamatan, terutama ketika mobil listrik harus diangkut menggunakan kapal feri untuk menyeberang antarpulau. Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) BRIN, Aam Muharam, mengatakan kebakaran kendaraan listrik memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kendaraan konvensional. Baterai berenergi tinggi dapat mengalami thermal runaway, yakni kondisi ketika suhu baterai meningkat secara tidak terkendali hingga menghasilkan panas dan asap serta berpotensi menyebabkan kebakaran kembali setelah api dipadamkan. Kebakaran BYD Seal di Tol Jakarta-Cikampek masih diselidiki. Polisi mengungkap detik-detik sebelum api melalap kendaraan. “Risiko tersebut semakin kompleks saat kendaraan listrik diangkut dengan kapal feri karena berada di ruang dek dengan akses penanganan terbatas. Dalam kondisi darurat, keselamatan penumpang dan awak kapal harus menjadi prioritas,” kata Aam, dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (30/8/2026). Cara Menangani Kebakaran Mobil Listrik Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN menggandeng Badan Klasifikasi Indonesia (BKI), Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), PT Digital Inovasi Risiko, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan riset mengenai respons darurat kebakaran kendaraan listrik berbasis baterai pada transportasi laut. Kajian tersebut mencakup safety risk assessment pengangkutan kendaraan listrik di kapal feri, simulasi risiko kebakaran dan evakuasi, hingga eksperimen pada sel baterai. Penumpang dan kendaraan turun dari kapal penyeberangan milik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Pelabuhan di Indonesia Timur buka 24 jam saat musim Lebaran. Menurut Aam, kolaborasi lintas institusi dibutuhkan untuk melihat persoalan keselamatan secara menyeluruh. Kajian tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis, tetapi juga pedoman, hasil investigasi kecelakaan, analisis risiko, hingga pemodelan kondisi darurat. Salah satu perhatian utama adalah potensi thermal runaway pada baterai. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kebakaran baterai lithium-ion tidak cukup ditangani hanya dengan pendekatan seperti kebakaran kendaraan bermesin konvensional. Kondisi kapal roll-on/roll-off (ro-ro) juga membuat penanganannya semakin kompleks. Kepadatan kendaraan, ruang yang relatif tertutup, serta keterbatasan akses dapat menyulitkan awak kapal ketika harus melakukan pemadaman maupun evakuasi. Tim Damkar Pamekasan melakukan pemadaman api saat Mobil Timur M 1612 VC terbakar hebat di Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Jumat (26/6/2026). Penanganan Harus Terintegrasi, dari Pelabuhan hingga Kapal Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry telah menerapkan sejumlah langkah untuk mendukung keselamatan pengangkutan kendaraan listrik Pengaturan dilakukan sejak kendaraan memasuki pelabuhan, termasuk melalui proses identifikasi, perencanaan pemuatan, serta penempatan kendaraan listrik pada area yang telah ditentukan di kapal. Kajian BRIN kemudian diarahkan untuk memperkuat skenario tanggap darurat, termasuk ketika terjadi thermal runaway di dek kapal. Sistem keselamatan dinilai tidak bisa hanya mengandalkan satu aspek, melainkan harus mencakup regulasi, kesiapan kapal dan kendaraan, serta kompetensi awak kapal. Baterai mobil listrik Toyota bZ4X. Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menegaskan hasil penelitian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah. Riset perlu diterjemahkan menjadi pedoman teknis, dasar pengambilan kebijakan, dan pengembangan sistem keselamatan transportasi. BRIN bersama para mitra juga mendorong kajian lanjutan yang mencakup simulasi kebakaran, skenario evakuasi, faktor manusia, serta studi implementasi di lapangan. Ilustrasi kapal feri di Korea Selatan. “Tantangan ini semakin penting ketika kendaraan listrik digunakan dalam transportasi penyeberangan,” kata Cuk Supriyadi. “Kapal feri memiliki peran penting dalam menghubungkan antarpulau dan mengangkut berbagai jenis kendaraan, termasuk kendaraan listrik yang penggunaannya terus meningkat,” ujarnya. Dengan demikian, peningkatan penggunaan kendaraan listrik tidak hanya diikuti pembangunan ekosistem pengisian daya dan produksi kendaraan, tetapi juga sistem keselamatan yang mampu menghadapi karakteristik baru kendaraan berbasis baterai. Hasil riset lintas lembaga tersebut diharapkan menjadi masukan untuk memperbarui pedoman teknis kapal pengangkut kendaraan listrik sekaligus memperkuat standar keselamatan transportasi penyeberangan di Indonesia.