JAKARTA, KOMPAS.com - Viral di media sosial video yang memperlihatkan mobil terbakar di Jalan Tol Layang Mohamed Bin Zayed (MBZ). Dalam narasi yang beredar, kendaraan yang terbakar disebut-sebut merupakan mobil listrik. Video tersebut memperlihatkan kemacetan di Jalan Tol Layang MBZ, akibat adanya mobil terbakar, dengan kepulan asap hitam di udara. Mobil Diduga Bukan Kendaraan Listrik Thomas Delvin, perekam video yang viral di media sosial, mengatakan kejadian tersebut terjadi saat dirinya melintas di Tol Layang MBZ pada Jumat (28/8/2026). Menurutnya, mobil terbakar tersebut terlihat sekitar pukul 11.16 WIB di area KM 37-39. "Waktunya pukul 11.16 WIB, perkiraan di KM 37-39. Saat ini lalu lintas juga sudah normal," kata Delvin kepada Kompas.com, Jumat (28/8/2026). Belum diketahui secara pasti detail kendaraan yang terbakar tersebut. Namun, dari video lanjutan yang diunggah Delvin, mobil tersebut diduga kuat merupakan sedan lawas kendaraan konvensional dan bukan mobil listrik. Dengan demikian, informasi yang menyebut kendaraan tersebut merupakan mobil listrik belum dapat dipastikan kebenarannya. Jangan Panik Saat Mobil Mulai Terbakar Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, mobil yang mengalami kebakaran biasanya menunjukkan sejumlah tanda awal. Beberapa tanda tersebut antara lain munculnya asap, bau hangus, hingga percikan api. Saat kondisi tersebut terjadi, pengemudi disarankan tidak panik dan tetap mengendalikan emosi agar bisa mengambil tindakan dengan cepat. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan evakuasi terhadap pengemudi dan penumpang. Selain itu, apabila kondisi memungkinkan, kendaraan dapat dipindahkan ke bahu jalan untuk menghindari risiko mengganggu pengguna jalan lain. “Setelah itu, segera lakukan evakuasi penumpang. Ambil APAR yang tersedia dan semprotkan ke sumbernya (biasanya api di ruang mesin),” kata Sony. mobil terbakar Gunakan APAR dari Arah yang Tepat Sony menjelaskan, penyemprotan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) sebaiknya dilakukan dari bagian bawah kendaraan. Menurutnya, kebakaran dapat terjadi karena adanya unsur oksigen, sumber panas, dan bahan bakar. Menghilangkan salah satu unsur tersebut dapat membantu memperlambat penyebaran api. “Untuk penyemprotan, sebaiknya dimulai dari kolong mobil, karena api timbul oleh oksigen, pemantik ataupun bahan bakar, maka hilangkanlah salah satunya,” ujar Sony. Namun, apabila api sudah membesar dan sulit dikendalikan, pengemudi disarankan tidak memaksakan melakukan pemadaman sendiri. Sebab, kendaraan memiliki banyak material yang mudah terbakar sehingga api bisa cepat membesar. “Tapi kalau kobaran api sudah membesar, butuh tim pemadam kebakaran yang memiliki peralatan lebih memadai. Sebab kalau tidak segera ditangani, api pasti semakin besar karena banyak material mobil tidak tahan api,” ucap Sony.