Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji risiko kebakaran kendaraan listrik yang diangkut menggunakan kapal feri. Kajian ini dilakukan untuk memastikan sistem keselamatan transportasi penyeberangan mampu menghadapi karakteristik kendaraan listrik yang berbeda dengan kendaraan konvensional. Penelitian tidak hanya berfokus pada kondisi baterai kendaraan, tetapi juga melihat aspek keselamatan kapal, proses pemuatan dan penempatan kendaraan, hingga kesiapan awak kapal dalam menghadapi kondisi darurat. komparasi Mobil Listrik Rp 200 Jutaan Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) BRIN, Ayudia Pangestu Gusti, penelitian dilakukan dengan melihat keterkaitan antara baterai, sistem pengaturan baterai, kendaraan secara keseluruhan, serta sistem keselamatan kapal. “Keselamatan kendaraan listrik di kapal tidak dapat dilihat dari satu aspek saja. Risiko tersebut bersifat sistemik sehingga tidak dapat dipandang dari satu aspek saja,” ujar Ayudia, dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (30/8/2026). Gotion sebut porsi harga baterai mobil listrik kini turun menjadi 40-50 persen. Baterai Rusak hingga Korsleting Tingkatkan Risiko Dalam kajiannya, tim BRIN mengidentifikasi sejumlah kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran kendaraan listrik. Beberapa di antaranya adalah kerusakan baterai, kenaikan suhu yang tidak terkendali, korsleting, hingga kegagalan dalam proses pemadaman api. Selain kondisi kendaraan, cara kendaraan listrik disimpan dan diatur posisinya di dalam kapal juga menjadi perhatian. Sebab, ketika terjadi keadaan darurat, posisi kendaraan dapat memengaruhi proses penanganan kebakaran maupun evakuasi. Ilustrasi SPKLU mobil listrik di Tol Trans Jawa Karakteristik baterai juga menjadi salah satu faktor penting yang dikaji. Setiap jenis baterai memiliki perilaku berbeda ketika mengalami kebakaran. Hasil pengujian yang dilakukan BRIN menunjukkan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) menghasilkan ledakan yang relatif lebih kecil, tetapi api dapat bertahan lebih lama. Sementara baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) dapat menghasilkan suhu api yang lebih tinggi. Perbedaan karakteristik tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi penanganan kebakaran. “Pengendalian kebakaran sangat penting. Kita harus memahami karakteristik api dan perilaku baterai,” kata Ayudia. Pemudik kendaraan roda empat antre untuk masuk kapal feri di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Selasa (18/4/2023). Sebanyak 339.340 orang sudah meninggalkan Jawa menuju Sumatera melalui Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, dari H-10 hingga H-5 atau Selasa (18/4/2023) pagi. BRIN Akan Uji Kendaraan Listrik Secara Utuh Penelitian BRIN selanjutnya akan memasuki tahap pengujian menggunakan kendaraan listrik secara utuh. Pengujian tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah karakteristik baterai tetap sama setelah terintegrasi dengan sistem pengaturan baterai dan berbagai komponen kendaraan lainnya. Hasil penelitian tahun pertama dan pengujian lanjutan pada tahun kedua nantinya diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan pedoman transportasi kendaraan listrik serta prosedur penanganan kebakaran di kapal. Kajian berikutnya juga akan melihat kesiapan awak kapal dalam merespons kondisi darurat dan menjalankan proses evakuasi. Kondisi dek Kapal Dharma Kartika IX yang miring sesaat setelah sandar di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Selasa (27/1/2026) pagi. Satu penumpang masih terjebak di dalam dek kapal akibat terjepit. Hal ini penting karena penanganan kebakaran kendaraan listrik membutuhkan pemahaman terhadap karakteristik baterai, bukan hanya mengandalkan prosedur yang selama ini digunakan untuk kendaraan bermesin pembakaran internal. Melalui penelitian tersebut, BRIN berupaya menyediakan dasar ilmiah untuk meningkatkan keselamatan pengangkutan kendaraan listrik melalui kapal feri. Hasil kajian diharapkan dapat membantu operator kapal dan pemangku kepentingan menyiapkan langkah pencegahan, prosedur pemadaman, serta skenario evakuasi yang sesuai dengan karakteristik kendaraan listrik.