Meski tak membutuhkan bahan bakar minyak (BBM), mobil listrik tetap memanfaatkan energi terbatas yakni dari daya listrik yang tersimpan di baterai. Masing-masing model mobil listrik punya kapasitas baterai berbeda, sehingga, di atas kertas jarak tempuhnya beragam. Ini menjadi tantangan tersendiri ketika konsumen memutuskan liburan ke luar kota pakai mobil listrik. Pasalnya, keberadaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di setiap daerah di Indonesia belum merata, meski sudah cukup banyak. Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan selain klaim pabrikan, konsumsi daya listrik juga ditentukan dari kebiasaan pengendara dalam mengoperasikan mobil tiap harinya. “Dalam kondisi darurat, seperti keberadaan SPKLU masih cukup jauh, sebenarnya pengemudi mobil listrik bisa menghemat baterai agar jarak tempuhnya lebih panjang dan berpeluang tidak mogok di jalan,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, Minggu (14/12/2025). Pertama, pengendara perlu mengurangi konsumsi air conditioner (AC), pasalnya beban kerja komponen AC cukup besar. Ilustrasi AC mobil kurang dingin “Tak usah pake AC dulu, agar daya listrik di dalam baterai benar-benar dimanfaatkan untuk menghasilkan jarak tempuh,” ucap Jayan. Komponen AC seperti kompresor, blower dan sensor-sensor, membutuhkan daya listrik yang disuplai dari baterai besar. Konsumsi dayanya cukup besar. “Selain itu manfaatkan jalan yang menurun, gaya dorong gravitasi bumi bisa menghasilkan jarak tempuh lebih panjang karena kerja motor jadi lebih ringan, ketika rem generatif aktif pun bisa menambah daya listrik ke baterai,” ucap Jayan. Ilustrasi kickdown pedal gas Jayan juga menyarankan agar pengemudi menghindari berhenti di lampu merah. Caranya dengan melakukan antisipasi dari jarak jauh, dengan memperlambat laju mobil tanpa melakukan pengereman atau menginjak pedal rem. “Saat mobil berhenti, lalu mau melaju kembali butuh daya sangat besar, bila hal ini bisa dihindari, maka konsumsi baterai jadi lebih hemat, saat mobil melaju konstan di bawah 80 Km per jam itu paling efisien,” ucap Jayan. Selain itu, pengendara mobil listrik perlu melakukan akselerasi dengan halus. Jangan terpancing dengan sensasi berkendara mobil listrik dengan torsi instan saat hendak menghemat baterai. “Akselerasi halus dapat memberikan efek pada daya listrik yang dikeluarkan oleh baterai, karena injakan pedal gas tidak agresif, maka kontroler akan memerintahkan motor melaju dengan pelan dan hemat energi,” ucap Jayan. Nah, itu tadi cara menghemat baterai pada mobil listrik dalam kondisi darurat. Cara ini bisa diterapkan saat perjalanan atau liburan ke luar daerah dengan keberadaan SPKLU masih jauh tapi baterai sudah mulai menipis. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang