— Sebuah unggahan di akun Instagram @polantasindonesia tengah ramai diperbincangkan warganet. Dalam unggahan itu, admin menampilkan pesan langsung (DM) dari salah satu pengguna yang mengeluhkan kondisi lalu lintas yang semakin semrawut belakangan ini. Pesan tersebut menyuarakan keresahan terhadap perilaku pengendara yang dianggap semakin tidak tertib di jalan. “Halo min, tilang offline/langsung di tempat bisa gak ya diberlakukan kembali? Sumpah yamin masyarakat berkendara semakin acak adul, awlan arah dimana-mana, knalpot super brong, lampu merah sudah tidak berguna lagi di jalan raya/besar, tolong berlakukan tilang di tempat seperti dahulu min,” tulis pengirim pesan tersebut. Unggahan itu kemudian mendapat banyak tanggapan dari warganet lain yang merasa senada dengan isi pesan tersebut. Banyak yang menilai, sejak diberlakukannya sistem tilang elektronik (e-TLE), pengendara menjadi lebih berani melanggar aturan karena merasa pengawasan di lapangan menurun. Menanggapi hal tersebut, Direktur Lalu Lintas Polda Sulawesi Tenggara Kombes Pol Argo Wiyono memberikan penjelasan. https://www.instagram.com/p/DQ3At9REtKF/?igsh=a3pobmJ1YmIzemF4 Ia menyebut bahwa tilang manual atau tilang langsung di tempat masih tetap diberlakukan secara terbatas, khusus untuk pelanggaran yang berpotensi menimbulkan gangguan serius di jalan raya. “Tilang manual saat ini diberlakukan untuk knalpot brong dan balap liar. Sementara pelanggaran lainnya tetap dimaksimalkan melalui sistem e-TLE,” ujar Argo kepada Kompas.com, Senin (10/11/2025). Dengan kebijakan ini, polisi tetap mengedepankan pendekatan teknologi untuk penegakan hukum lalu lintas, namun tidak menutup kemungkinan tindakan langsung jika pelanggaran dinilai membahayakan ketertiban umum. Langkah tersebut juga sejalan dengan arahan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri yang menegaskan bahwa tilang manual bisa digelar secara situasional dan selektif prioritas. Meski begitu, sejumlah masyarakat masih berharap agar tilang manual bisa diaktifkan kembali secara lebih luas untuk menekan pelanggaran kasat mata, seperti melawan arus, menerobos lampu merah, atau tidak menggunakan helm. Banyak yang menilai, kehadiran petugas di lapangan tetap dibutuhkan untuk menjaga kedisiplinan dan efek jera bagi pelanggar. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.