Secara tampilan fisik, Indomobil Emotor Sprinto memang sekilas sangat mirip dengan skutik konvensional bensin yang jamak beredar di jalanan tanah air. Mulai dari proporsi bodi, penggunaan pelek, hingga siluetnya. Namun, bagaimana dengan sensasi berkendara hariannya? Apakah rasa berkendaranya se-natural tampilannya, atau justru terasa asing seperti kebanyakan motor listrik di kelasnya? Setelah mencobanya untuk komuter harian, berikut ulasan lengkap saya. Ergonomi Nyaman, Jauh dari Kesan "Jongkok" Satu hal yang paling saya apresiasi saat pertama kali naik ke atas jok Sprinto adalah ergonominya. Menurut saya, ini adalah salah satu motor listrik yang posisi duduknya paling mirip dengan skutik konvensional. Indomobil Emotor Sprinto Bagi saya yang memiliki postur tinggi 178 cm, posisi tangan terasa cukup rileks saat memegang setang. Ketika motor berhenti, kedua kaki saya juga bisa menapak dengan sempurna ke permukaan tanah tanpa ada gejala jinjit. Kelebihan utamanya terasa ketika kaki naik ke atas dek. Untungnya, dek kaki Sprinto tidak terlalu tinggi. Alhasil, posisi berkendara tetap terasa ergonomis dan nyaman bagi saya, tidak memaksa saya berada dalam posisi agak "jongkok". Ini catatan penting buat saya, karena kebanyakan motor listrik yang beredar saat ini meletakkan posisi baterai di bawah dek, sehingga menjadi terlalu tinggi dan kurang nyaman untuk pengendara berpostur tinggi dalam perjalanan jauh. Indomobil Emotor Sprinto Bicara soal joknya, busa yang digunakan menurut saya terasa cukup pas karena tidak terlalu empuk. Karakter seperti ini justru berdampak positif karena mampu menopang atau men-support bagian punggung saya dengan baik saat berkendara. Efeknya, dipakai untuk keperluan komuter harian masih terasa enak, dan ketika diajak berjalan jarak jauh pun rasanya tetap aman tanpa membuat badan cepat lelah. Untuk menyalakan Sprinto, ada dua pilihan praktis, bisa menggunakan anak kunci konvensional atau tinggal menekan tombol petir dua kali pada remot bawaan. Setelah klaster instrumen menyala, saya tinggal melipat standar samping dan menarik tuas rem, maka motor sudah dalam posisi ready untuk saya ajak jalan. Indomobil Emotor Sprinto Rasa Berkendara Halus, tapi Mode Paling Galak Kurang "Ngejambak" Beralih ke performa, Sprinto dibekali dengan tiga mode berkendara, yaitu Comfort, Sport, dan Boost. Karakter dari ketiga opsi ini memiliki kemiripan, terutama pada respons selongsong gasnya yang cenderung mulus dan sama sekali tidak menyentak dari posisi diam. Yang membedakan secara signifikan bagi saya hanyalah batas kecepatan maksimalnya. Pada mode Comfort, kecepatan motor dibatasi di kisaran 40-an kpj, sangat pas saat saya membelah jalanan komplek atau gang padat. Masuk ke mode Sport, batas kecepatannya naik ke kisaran 60-an kpj. Sementara jika saya ingin melepaskan kemampuan tertingginya, mode Boost bisa mengawal saya melaju sampai 90 kpj. Sayangnya, meski batas kecepatannya berbeda, respons tarikan gas di mode Sport maupun Boost masih cenderung terasa sama halus bagi saya. Jujur saja, padahal saya berekspektasi kalau di mode paling galaknya (Boost), sensasi berkendaranya bisa terasa lebih instan dan "ngejambak" layaknya karakter motor listrik murni dengan torsi besar. Indomobil Emotor Sprinto Kaki-kaki Dewasa dan Pengereman Pakem Nilai plus utama dari Sprinto yang membuat saya betah memakainya harian justru ada di sektor kaki-kaki. Mengandalkan pelek berdiameter 14 inci bantingan sokbrekernya terasa sangat mirip dengan skutik konvensional. Rasanya antep (berbobot) dan solid, tidak terasa ringkih atau terlalu kopong saat saya melewati sambungan jalan. Ketika saya melewati permukaan jalan yang tidak rata atau bergelombang, karakternya terasa "dewasa". Redamannya pas, tidak terlalu keras, tapi juga tidak mantul-mantul berlebih karena terlalu empuk. Karakter suspensi seperti ini yang membuat saya percaya diri dan leluasa meliuk-liuk di tengah kemacetan jalanan dengan nyaman. Sektor kenyamanan tersebut ditunjang pula oleh sistem pengereman yang mumpuni. Baik untuk roda depan maupun belakang, rem cakram yang diusungnya bekerja dengan sangat pakem untuk menghentikan laju motor saya dengan presisi. Indomobil Emotor Sprinto Fitur Maps Sangat Membantu, tapi Ada Catatan Sektor klaster instrumen atau speedometer Sprinto juga tergolong canggih di kelasnya. Saya sempat memanfaatkan sistem konektivitasnya dengan menghubungkan smartphone saya langsung ke layar dasbor. Begitu terhubung, fitur Google Maps bawaan langsung aktif dan ini sangat membantu saya, apalagi buat perjalanan jauh ke rute yang belum familiar. Namun, saya mencatat ada dua evaluasi penting selama penggunaan fitur navigasi ini. Pertama, tampilan atau tema layarnya terlalu terang. Saat saya riding di malam hari, pancaran cahayanya terasa terlalu menyilaukan mata saya, bahkan setelah saya setel di pengaturan paling redup sekalipun. Indomobil Emotor Sprinto Kedua, karena sistem konektivitasnya mengadopsi basis Android Auto yang sejatinya dikembangkan untuk kendaraan roda empat, maka secara default, Google Maps yang tampil di layar mendeteksi motor saya sebagai mobil. Saya harus jeli dan wajib mengaktifkan filter "hindari jalan tol" secara manual agar saya tidak diarahkan masuk ke dalam tol. Kesimpulan Secara keseluruhan, bagi saya Indomobil Emotor Sprinto sukses memosisikan diri sebagai salah satu pilihan motor listrik Rp 25 jutaan yang proper untuk dipinang. Rasa berkendaranya sangat natural dan pas dengan karakter pengendara di Indonesia yang terbiasa dengan skutik bensin. Memang catatan dari saya ada pada respons mode berkendara yang kurang agresif serta klaster instrumennya yang terlalu terang dan butuh penyesuaian navigasi saat malam hari. Namun, paket kenyamanan ergonomi, karakter joknya yang menopang punggung, hingga kematangan kaki-kakinya tetap membuat saya merasa motor listrik ini sangat rasional untuk menunjang mobilitas harian. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang