Setelah mengupas desain, spesifikasi, dan fitur Indomobil Emotor Sprinto, kali ini saya menghitung seberapa efisien konsumsi listriknya saat dipakai harian. Dengan kapasitas baterai Lithium sebesar 2,45 kWh, pabrikan mengklaim motor ini bisa melaju hingga jarak 110 km. Namun, bagaimana realisasinya saat dihitung berdasarkan konsumsi daya per kilometer di berbagai kondisi jalan? Jalur Lancar Bogor ke Petukangan Perjalanan dimulai dari Bogor dengan kondisi baterai terisi penuh 100 persen, di mana posisi odometer menunjukkan angka 490 km. Pada etape pertama menuju daerah Petukangan ini, karakter lalu lintas yang saya hadapi terhitung bersahabat dan cenderung lancar. Indomobil Emotor Sprinto Cara berkendara pun saya sesuaikan dengan kondisi jalan, yaitu santai dan konstan menjaga kecepatan di kisaran 50–60 kpj. Begitu roda motor menginjak wilayah Petukangan, odometer menunjukkan angka 542 km dan sisa baterai berada di angka 53 persen. Jarak Tempuh Etape 1: 542 km – 490 km = 52 kilometer Daya Baterai Terkuras: 100 persen – 53 persen = 47 persen Kapasitas Energi Terpakai: 47 persen dikali 2,45 kWh = 1,15 kWh (1.151,5 Wh) Dengan gaya berkendara yang stabil dan kondisi jalan lancar, Sprinto mencatatkan angka efisiensi sebesar 22,14 Wh/km. Jika dikonversi, 1 kWh daya baterai mampu membawa motor ini melaju sejauh 45,16 kilometer. Indomobil Emotor Sprinto Jalur Macet Petukangan ke Menara Kompas (Palmerah) Setelah beristirahat sejenak, perjalanan berlanjut dari Petukangan menuju Menara Kompas di kawasan Palmerah dengan sisa baterai awal 53 persen. Kondisi jalan raya di etape kedua ini berubah drastis menjadi padat dan macet. Menariknya, di sela-sela kepadatan dan saat menemukan celah kosong, saya tidak lagi berkendara santai. Saya mencoba menguji performa maksimalnya dengan memacu motor listrik berdaya 3,5 kW ini hingga menyentuh kecepatan puncak 90 kpj. Begitu sampai di area parkir Menara Kompas, odometer di angka 552 km dan indikator sisa baterai menyusut hingga 41 persen. Jarak Tempuh Etape 2: 552 km – 542 km = 10 kilometer Daya Baterai Terkuras: 53 persen – 41 perse = 12 persen Kapasitas Energi Terpakai: 12 persen dikali 2,45 kWh = 0,29 kWh (294 Wh) Kombinasi kemacetan stop-and-go ditambah gaya berkendara agresif di kecepatan tinggi membuat konsumsi energinya melonjak. Pada etape ini, efisiensinya turun menjadi 29,4 Wh/km, atau setara dengan 34,01 kilometer per kWh. Torsi instan 195 Nm milik Sprinto memang sangat menyenangkan untuk bermanuver, namun konsekuensinya daya baterai akan tersedot lebih masif. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang