Membeli motor listrik bukan cuma soal menghitung harga tunai di diler, melainkan juga harus memikirkan pengeluaran jangka panjangnya. Total Cost of Ownership (TCO) atau biaya kepemilikan yang mencakup biaya energi harian, pajak tahunan, hingga perawatan berkala juga perlu dihitung. Setelah sebelumnya saya menguji langsung performa efisiensinya di jalan raya, kali ini akan membedah hitung-hitungan riil biaya kepemilikan Indomobil Emotor Sprinto selama satu tahun penuh, atau setara dengan jarak tempuh rata-rata harian kumulatif 12.000 kilometer. Indomobil Emotor Sprinto Apakah benar motor listrik seharga Rp 25 jutaan ini bisa bikin pengeluaran bulanan saya jadi jauh lebih longgar? Mari kita bedah satu per satu datanya secara rinci. Biaya Konsumsi Daya Listrik Berdasarkan data pengujian riil rute kombinasi yang sudah saya lakukan sebelumnya, Sprinto mencatatkan konsumsi energi rata-rata sekitar 23,31 Wh/km. Jika dalam satu tahun motor ini saya pakai sejauh 12.000 km, maka total daya listrik yang dibutuhkan adalah 279,72 kWh. Kalau dihitung dengan tarif listrik PLN di rumah sebesar Rp 1.444,7 per kWh, maka biaya mengecas di rumah selama satu tahun adalah Rp 404.111. Menariknya, biaya cas ini masih bisa dipangkas lagi sampai menyentuh angka Rp 0 alias gratis. Jika saya ingin jauh lebih hemat, saya tinggal memanfaatkan fasilitas fast charger yang disediakan di seluruh jaringan diler resmi Indomobil Emotor. Selain durasi pengecasannya jauh lebih singkat dan cepat, pengisian daya di diler ini sama sekali tidak dipungut biaya. Jadi, kalau rute harian sering melewati diler, pengeluaran untuk sektor daya ini bisa ditekan sampai minim. Indomobil Emotor Sprinto Biaya Pajak Tahunan (STNK) Sektor pajak menjadi salah satu keuntungan terbesar bagi pemilik kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia saat ini. Berkat regulasi insentif dari pemerintah, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) untuk motor listrik adalah Rp 0 alias gratis. Jadi, saat masa perpanjangan STNK setiap tahunnya, saya hanya perlu membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) saja sebesar Rp 35.000. Biaya Servis Rutin dan Perawatan Berkala Indomobil Emotor Sprinto Berdasarkan data resmi jadwal perawatan yang saya terima dari Indomobil Emotor, Sprinto memiliki skema servis berkala yang sangat ramah kantong karena minimnya moving parts jika dibandingkan dengan motor bensin. Untuk servis pertama di enam bulan kepemilikan, biaya servisnya gratis. Baru servis lagi di bulan ke-18 dan 30 dengan biaya servis Rp 37.500. Lalu ada opsi untuk penggantian kampas rem depan dan belakang Rp 43.000, penggantian ban depan dan belakang Rp 600.500, serta bearing roda depan Rp 43.000. Cuma kalau dihitung pada kepemilikan selama tahun pertama, maka biaya servisnya gratis. Karena baru dikenakan biaya pada servis berikutnya di bulan 18 dan 30. Kesimpulan: Berapa Total Biaya di Tahun Pertama? Mari kita akumulasikan seluruh pengeluaran riil untuk operasional Indomobil Emotor Sprinto selama satu tahun pertama atau 12.000 km: Biaya Token Listrik (Rumah): Rp 404.111 (Bisa Rp 0 kalau rajin mampir ke diler) Pajak STNK Tahunan: Rp 35.000 Biaya Perawatan Berkala: Rp 0 (Masih masa gratis servis) Total Biaya Kepemilikan Setahun: Rp 439.111 Jika angka total tersebut dibagi per bulan, maka saya hanya perlu menyisihkan uang Rp 36.000-an untuk merawat dan memakai motor ini. Jika dibagi per hari, cuma sisihkan Rp 1.200 saja, kurang dari Rp 2.000. Bahkan jika sering memanfaatkan fast charging gratis di diler, pengeluaran tahunan saya praktis tinggal menyisakan bayar pajak STNK Rp 35.000 saja setahun. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang