Pengamat transportasi Darmaningtyas menilai, anggaran pemerintah akan lebih bermanfaat apabila diarahkan untuk pengadaan bus listrik di berbagai daerah ketimbang digunakan untuk mendukung proyek motor listrik nasional atau molinas. Menurut dia, kebijakan tersebut bukan hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga bisa membangun sistem transportasi umum yang lebih ramah lingkungan secara bertahap. Darmaningtyas mengatakan, pengadaan bus listrik dapat menjadi aset bagi daerah dalam jangka panjang. Dengan dukungan pemerintah, daerah memiliki kesempatan untuk mulai membangun layanan angkutan umum berbasis energi yang lebih bersih. "Jangka panjangnya untuk daerah itu jauh lebih bagus, karena mungkin dalam waktu 8 tahun daerah-daerah itu memiliki kendaraan umum yang ramah lingkungan," ujar Darmaningtyas, saat dihubungi Kompas.com, Senin (16/8/2026). Pameran GIIAS 2026 Insentif Dinilai Terlalu Berpihak pada Produk Darmaningtyas menyoroti kebijakan pemerintah selama ini yang lebih banyak memberikan insentif untuk mendorong pembelian kendaraan listrik pribadi, baik mobil maupun sepeda motor. Menurut dia, pendekatan tersebut perlu dievaluasi. Sebab, insentif pembelian kendaraan listrik belum tentu memberikan manfaat sebesar investasi pada transportasi umum. "Bilang saja, pemerintah sebaiknya tidak mengulangi kebodohan yang sudah diterapkan selama ini. Selama ini selalu memberikan insentif untuk pembelian mobil listrik dan motor listrik, tetapi tidak pernah memberikan bantuan kepada daerah-daerah berupa bus listrik. "Sehingga, kesannya pemerintah itu memang menjadi brokernya dari industri motor listrik dan mobil listrik," ujarnya. Bus listrik melayani masyarakat di IKN Pandangan tersebut muncul di tengah dorongan pemerintah untuk mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Selama ini, berbagai bentuk insentif diberikan untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. Namun, menurut Darmaningtyas, kebijakan tersebut juga perlu dilihat dari sisi kebutuhan masyarakat secara lebih luas. Ia menilai, rendahnya minat pasar terhadap sebagian produk kendaraan listrik menjadi salah satu alasan pemerintah terus memberikan stimulus agar penjualan dapat meningkat. Bus listrik Zhongtong Subsidi Dinilai Hanya Mendorong Penjualan Darmaningtyas bahkan menilai, insentif pembelian kendaraan listrik berpotensi lebih banyak menguntungkan produsen ketimbang memberikan dampak langsung terhadap perbaikan sistem transportasi. "Kenapa saya bilang broker? Itu kan karena pengusaha-pengusaha motor dan mobil listrik itu sudah memproduksi, tetapi kan minat masyarakat tidak setinggi yang diharapkan. Jadi, produksinya tidak tinggi, tidak laku seperti yang diharapkan. Nah, supaya laku seperti yang diharapkan, maka pemerintah itu tadi memberikan subsidi," ujar Darmaningtyas. Menurut dia, anggaran negara seharusnya dapat diarahkan untuk membangun transportasi umum yang bisa digunakan lebih banyak masyarakat. Bus Listrik Transjakarta buatan Karoseri Laksana Pengadaan bus listrik, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi emisi dari sektor transportasi, tetapi juga berpotensi memperluas akses masyarakat terhadap angkutan umum yang lebih modern.