BYD Motor Indonesia memastikan bakal menghentikan impor mobil listrik setelah pabriknya di Subang, Jawa Barat, mulai beroperasi. Seluruh model yang sebelumnya didatangkan secara utuh atau Completely Built Up (CBU) akan secara bertahap beralih ke produk yang diproduksi di dalam negeri. Sementara, unit impor yang masih tersisa di diler akan dibiarkan hingga habis dan tidak mendapat tambahan pasokan. Ilustrasi booth BYD di GIIAS 2026 Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan, penghentian impor menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk berkonsentrasi pada produksi lokal. "Mungkin itu masih ada sisa suplai sebelumnya dan itu sudah sedikit sekali," ujar Luther seusai peresmian pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Langkah tersebut menjadi penting karena BYD masih memiliki kewajiban produksi sebagai peserta program insentif impor mobil listrik CBU yang diberikan pemerintah sejak 2024. Pabrik BYD di Subang ditargetkan menyerap hingga 20.000 tenaga kerja lokal saat mencapai kapasitas produksi penuh. Wajib Produksi 92.000 Unit Melalui program tersebut, BYD menjadi salah satu dari enam produsen yang mendapatkan fasilitas impor mobil listrik dengan tarif bea masuk 0 persen dan PPnBM 0 persen. Sebagai kompensasinya, peserta program wajib memproduksi kendaraan di Indonesia dengan volume yang setara dengan jumlah mobil yang diimpor menggunakan fasilitas insentif. "Pada saat ini setelah kita kalkulasi total-total kita hanya impor sebanyak 92.000 unit, dari total 100.000 unit kuota itu," kata Luther. Peresmian pabrik BYD di Indonesia, Kamis (3/9/2026). Dengan demikian, BYD memiliki kewajiban memproduksi sedikitnya 92.000 mobil listrik di Indonesia. Produksi lokal tersebut harus memenuhi ketentuan spesifikasi yang telah ditetapkan, antara lain kapasitas baterai dan motor listrik yang tidak boleh diubah dari versi impor. Kewajiban produksi lokal berlaku mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027. Jika tidak terpenuhi, pemerintah dapat mencairkan bank garansi yang sebelumnya disiapkan sebagai jaminan. Luther optimistis kewajiban tersebut dapat diselesaikan dalam periode yang ditentukan. "Saya rasa dua tahun ke depan, dari tahun ini, sudah dapat kita fulfill, kalau lihat sekarang trennya BYD cukup signifikan ya secara penjualan," ujarnya. Denza D9 bakal diproduksi lokal di pabrik BYD Subang. Unitnya sudah terlihat di lini produksi, meski masih tahap uji coba. Produksi Lokal BYD Dikebut, Impor Tak Lagi Ditambah Pabrik BYD di Subang saat ini sudah memproduksi Atto 1 dan M6 DM. Selanjutnya, M6 EV dan Denza D9 juga akan dirakit secara lokal. BYD tidak menutup kemungkinan menambah model lain ke lini produksi dalam negeri. Namun, perusahaan untuk sementara memprioritaskan model yang memiliki potensi volume penjualan besar. "Ya, kita memang berkomitmen untuk setop (impor mobil) ya, karena kita sudah punya (pabrik)," ucap Luther. Adapun model BYD yang saat ini masih berstatus impor antara lain Dolphin, Atto 3, Seal, dan Sealion 7. Unit-unit yang sudah telanjur berada di diler akan tetap dijual hingga stoknya habis.