BYD Atto 1 mengalami kecelakaan ringan setelah terlibat tabrak samping di salah satu ruas jalan di Kecamatan Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Meski kerusakan pada bagian bodi terlihat tidak terlalu parah, airbag bagian depan mobil listrik tersebut tampak mengembang. Baik itu di sisi pengemudi ataupun penumpang. Dari tampilan kondisi kendaraan yang beredar, kerusakan terlihat pada pintu belakang sebelah kanan dan area pilar C. Sementara itu, bagian pintu depan sebelah kanan juga mengalami sedikit kerusakan. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, mengapa airbag bisa mengembang ketika kerusakan pada bodi kendaraan terlihat relatif ringan? BYD Atto 1 di GIIAS 2026 Adrianto Sugiarto Wiyono, anggota ASEAN NCAP (New Car Assessment Program for Southeast Asia) Technical Committee, mengatakan, keputusan airbag untuk mengembang tidak semata-mata ditentukan dari seberapa parah kerusakan bodi yang terlihat. Menurut dia, sistem airbag bekerja berdasarkan informasi yang diterima sensor ketika terjadi benturan. “Sependek pengetahuan saya, airbag ini akan mengembang jika sensornya menerima tekanan sekitar 2-5G,” kata Adrianto atau yang biasa disapa Rian, kepada Kompas.com (12/9/2026). Dengan demikian, kondisi panel bodi yang hanya terlihat penyok atau rusak ringan belum cukup untuk menyimpulkan apakah airbag seharusnya mengembang atau tidak. Sebuah BYD Atto 1 mengalami kecelakaan ringan hingga menyebabkan airbag mengembang. Sensor Jadi Penentu Airbag Mengembang Adrianto mengatakan, apabila sensor pada kendaraan menerima tekanan atau percepatan yang memenuhi ambang aktivasi, sistem dapat memerintahkan airbag untuk mengembang. “Jadi kalau sensor depan pada video tersebut bisa menerima 2-5G, perlu dilakukan investigasi lebih lanjut apa penyebabnya,” ucap Rian. “Mungkinkah posisi sensor yang tidak tepat atau mungkin ada modifikasi pada kendaraan yang menyebabkan short,” kata dia. BYD Atto 1 di GIIAS 2026 Artinya, diperlukan pemeriksaan untuk memastikan apakah sistem bekerja sesuai rancangan atau terdapat faktor lain yang memengaruhi sensor. Hal ini juga menunjukkan bahwa tingkat kerusakan yang terlihat dari luar kendaraan tidak selalu menggambarkan besarnya gaya atau percepatan yang diterima sensor. “Bahwa tekanan yang diterima oleh sensor yang akan sangat menentukan aktif tidaknya airbag,” kata Rian. BYD Atto 1 di GIIAS 2026 Cara Kerja Airbag Mobil Listrik dan Konvensional Rian juga menjelaskan bahwa secara prinsip, sistem airbag pada mobil listrik tidak berbeda jauh dengan kendaraan bermesin pembakaran internal. “Secara cara kerja umum sama, namun mungkin ada ‘resep khusus’ untuk setiap produk dari pabrikan airbag,” ucapnya. Dengan kata lain, status kendaraan sebagai mobil listrik tidak serta-merta membuat sistem airbagnya bekerja dengan mekanisme yang berbeda. Namun, setiap kendaraan dapat memiliki konfigurasi sistem keselamatan dan kalibrasi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing produk. Ilustrasi booth BYD di GIIAS 2026 Sementara itu, terkait insiden BYD Atto 1 tersebut, Kompas.com telah menghubungi BYD Indonesia untuk meminta tanggapan mengenai kondisi kendaraan dan penyebab airbag mengembang. Luther Panjaitan, Head of PR & Government BYD, mengatakan pihaknya akan mengecek terlebih dahulu kejadian tersebut. “Saya cek ya,” ujar Luther, saat dihubungi Kompas.com (12/9/2026). Hingga artikel ini ditulis, belum ada penjelasan lebih lanjut dari BYD Indonesia mengenai hasil pemeriksaan kendaraan tersebut.