Restorasi interior mobil, khususnya bagian jok berbahan fabric atau kain, masih menjadi pilihan bagi sebagian orang terutama yang ingin mempertahankan tampilan orisinal. Bahan fabric umumnya digunakan pada mobil-mobil lawas, terutama produksi era 1980-an hingga 1990-an. Namun saat ini tren penggunaannya mulai berkurang karena berbagai faktor, mulai dari ketersediaan bahan hingga biaya. Bengkel interior mobil, Trim Car Service Interior Yanto, yang akrab disapa Anto Trim, dari bengkel spesialis interior mobil Trim Car Service Interior di Haji Nawi, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa restorasi dengan bahan fabric kini lebih banyak dilakukan pada mobil klasik tertentu. “Nanganin, tapi hanya untuk mobil-mobil tahun 1980-an. Itu pun biasanya mobil yang tergolong langka. Kalau mobil biasa, jarang," ujar Anto kepada Kompas.com, di Jakarta, belum lama ini. "Untuk saat ini, restorasi mobil klasik juga sudah cukup jarang. Dua tahun lalu masih banyak. Makanya sekarang lebih banyak pakai bahan kulit,” kata Anto. Motif jok fabric mini tartan laris karena motif dan polanya yang bisa dibilang abadi, serta cocok diaplikasikan mobil apapun. Menurut dia, tingginya harga material menjadi salah satu alasan utama pemilik kendaraan enggan mempertahankan jok berbahan kain. Alhasil, banyak yang beralih ke bahan kulit, baik asli maupun sintetis, yang dinilai lebih praktis dan mudah perawatannya. Meski begitu, penggunaan bahan fabric tetap memiliki tempat tersendiri, terutama bagi penggemar mobil retro yang ingin menjaga keaslian tampilan kabin. Stefaan Ardino, pemilik Java Seat, workshop interior spesialis retro di Bekasi, Jawa Barat, mengatakan bahwa bahan fabric penting untuk menghadirkan nuansa standar pabrikan, khususnya pada mobil era 1980-an dan 1990-an. Ilustrasi bahan kain tartan buat retrim jok fabric “Itu sebetulnya bikin harga dan tampilan mobil turun. Maksudnya bukan harga jual, tapi harga kelas mobilnya jadi turun,” kata Stefaan. Ia menambahkan, ketersediaan bahan fabric orisinal (OEM) di Indonesia sebenarnya masih cukup banyak, terutama untuk mobil-mobil Jepang lawas. “Kalau kesulitan justru lebih gampang, karena mobil retro justru lebih simpel daripada mobil sekarang,” kata Stefaan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang