Pelanggaran lalu lintas dan konflik antarpengguna jalan masih kerap terjadi di Indonesia. Fenomena ini terus berulang meski aturan sudah jelas dan kampanye keselamatan rutin digaungkan oleh berbagai pihak. Petugas kepolisian pun tidak jarang melakukan penindakan tegas terhadap pelanggar. Namun, saat pengawasan tidak terlihat, sebagian pengguna jalan kembali mengabaikan aturan yang seharusnya dipatuhi bersama. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, akar persoalan terletak pada lemahnya kesadaran kolektif masyarakat dalam berlalu lintas. Menurut dia, banyak orang belum benar-benar memandang jalan sebagai ruang publik yang harus dijaga dan dihormati bersama. Kecelakaan lalulintas melibatkan Bus Pariwisata di Perempatan Gading, Playen, Gunungkidul. Minggu (24/12/2023) “Kesadaran masyarakat di jalan itu masih lemah, padahal jalan adalah ruang publik,” kata Jusri kepada Kompas.com, Rabu (18/2/2026). Akibatnya, kepentingan pribadi kerap lebih diutamakan dibanding keselamatan bersama. Keinginan untuk cepat sampai tujuan, tidak mau mengalah, hingga mudah tersulut emosi menjadi pemicu pelanggaran sekaligus konflik di lapangan. Jusri menjelaskan, karakter pengguna jalan sangat beragam, mulai dari yang terampil dan tertib hingga yang kurang sehat atau bahkan tidak layak mengemudi. Variasi kondisi fisik dan mental ini menjadi faktor yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya oleh regulasi. “Apakah ketika semua sudah melaksanakan peraturan secara ideal lalu aman? Belum tentu, karena ada faktor manusianya,” ujarnya. Artinya, regulasi saja tidak cukup tanpa kedewasaan dan kontrol diri. Minimnya sikap antisipatif juga memicu gesekan di jalan karena pengendara sering gagal membaca potensi kesalahan orang lain. Jusri menegaskan, empati menjadi kunci untuk menekan pelanggaran dan konflik. Dengan empati, pengguna jalan lebih mampu menahan diri, memberi ruang, dan menghindari situasi yang berpotensi memicu kecelakaan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang