Melakukan modifikasi atau restorasi pada area kabin, seperti servis dashboard yang pecah atau melapisi ulang jok dengan kulit baru, memang bisa mendongkrak kemewahan mobil. Namun, di balik estetika tersebut, muncul satu kekhawatiran besar, apakah airbag masih bisa mengembang sempurna saat terjadi kecelakaan? Mengingat posisi airbag umumnya tertanam di balik panel dashboard dan sisi samping jok, proses pelapisan ulang (re-trim) tentu bersinggungan langsung dengan jalur keluar balon udara tersebut. Leonard, pemilik bengkel spesialis interior Indoleather di Bogor menjelaskan, dalam proses pengerjaan, pihaknya selalu berupaya mengikuti standar konstruksi bawaan pabrik. Modifikasi jok mobil "Kita ikutin jalur aslinya saja. Jadi misalkan ada coakan (jalur sobekan), kita bikin coakan. Sesuai sama pabrikan," ujar Leonard saat ditemui Kompas.com belum lama ini. Meski mengikuti pola orisinal, Leonard mengakui secara jujur bahwa pembuktian di lapangan secara teknis memang sulit dilakukan karena keterbatasan alat uji tabrak. "Cuma selama logika saya gini ya, bawaannya A ya kita bikin A. Logika saya, airbag itu kecepatannya dan kekuatannya gede banget. Kan kita cuma modal lem, harusnya sih jebol," ucapnya. Hal yang sama juga berlaku untuk fitur side airbag yang tertanam di dalam jok. Leonard menekankan pentingnya menduplikasi pola jahitan atau lekukan khusus yang memang disediakan pabrikan sebagai titik terlemah agar airbag bisa menembus material kulit saat meledak. Namun, ia tidak ingin memberikan janji manis yang berlebihan kepada konsumen. Baginya, keterbukaan mengenai risiko keselamatan adalah hal utama dalam bisnis modifikasi interior. "Kalau pas praktiknya jebol apa enggak, saya kurang paham. Kita juga mesti ngomong apa adanya, jangan sampai amit-amit ya, entar dia kecelakaan, untung enggak seberapa jadi masalah," kata Leonard. Dashboard Suzuki Fronx GL Bagi pemilik mobil yang ingin melakukan modifikasi interior, pastikan bengkel yang dipilih memahami letak sensor dan jalur airbag. Menggunakan material yang terlalu tebal atau teknik pengeleman yang salah berisiko menghambat keluarnya airbag, yang justru bisa berakibat fatal saat kecelakaan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang