Melakukan modifikasi interior, seperti mengganti pelapis jok atau membungkus dashboard dengan material kulit premium, memang meningkatkan kemewahan kabin. Namun, ada satu risiko yang sering menghantui pemilik mobil, munculnya bunyi-bunyi aneh atau rattle setelah komponen dipasang kembali. Suara gesekan atau getaran di area panel pintu (doortrim) dan dashboard tentu sangat mengganggu kenyamanan. Menurut Leonard, pemilik bengkel spesialis interior Indoleather di Bogor, masalah ini biasanya bukan disebabkan oleh material baru, melainkan faktor ketelitian saat proses bongkar pasang. Bengkel interior mobil, Trim Car Service Interior "Kalau dia bunyi, itu pasti ada sesuatu. Entah posisinya tidak pas, ada baut yang tidak terpasang, atau faktor lainnya. Di sini 'jam terbang' teknisi sangat menentukan," ujar Leonard kepada Kompas.com belum lama ini. Salah satu penyebab utama munculnya bunyi adalah kelalaian dalam mengelola baut dan klip. Leonard menekankan pentingnya sistem penomoran saat membongkar panel interior yang rumit. Menurutnya, teknisi tidak boleh hanya sekadar melepas baut tanpa pemetaan yang jelas. Cara yang paling aman adalah dengan menandai lokasi dan urutan setiap baut yang dilepas. "Makanya kalau main begini, saat buka ya tandain bautnya ada di mana saja. Kita nomorin, 1 sampai 7 misalnya. Taruh di satu tempat, nanti pasangnya harus urut lagi dari 1 ke 7," kata Leonard. Ia menambahkan, kesalahan sering terjadi ketika pemasangan dilakukan secara acak atau terbalik. "Jangan pasangnya dari tujuh turun ke bawah. Harus dari nomor 1, 2, 3, 4, supaya tidak bingung dan semua kembali ke posisi semula dengan presisi," tuturnya. Selain faktor manusia, kondisi fisik komponen plastik pada mobil juga memegang peranan. Leonard menyebutkan bahwa risiko klip patah atau panel pecah adalah hal yang lumrah dalam dunia modifikasi interior, terutama untuk mobil yang sudah berumur. Proses perbaikan dashboard mobil Ia menepis anggapan bahwa kualitas plastik mobil zaman sekarang lebih buruk dibanding mobil lawas. Menurutnya, kerusakan material lebih dipengaruhi oleh faktor usia kendaraan dan kondisi lingkungan tempat mobil beroperasi. "Plastik ya plastik. Tidak pengaruh mobil sekarang lebih jelek atau dulu lebih bagus. Kalau sudah waktunya pecah atau rusak, ya pecah saja," ucap Leonard. Faktor eksternal seperti perbedaan iklim antara negara asal mobil dengan Indonesia juga disinyalir mempercepat penurunan kualitas plastik interior. Suhu udara yang panas di Indonesia bisa membuat komponen plastik menjadi lebih getas seiring berjalannya waktu. "Pabrik mungkin mendesain mobil ini untuk negara dengan iklim tertentu, lalu masuk ke negara kita yang iklimnya begini (tropis). Biasanya di atas 15 tahun, ya mulai muncul masalah begini begitu pada plastiknya," kata Leonard. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang