Kemenangan Marco Bezzecchi dan Jorge Martin yang finis keempat pada seri pembuka MotoGP Thailand membuat nama Aprilia langsung mencuri perhatian. Pabrikan asal Italia tersebut menjadi sorotan bukan hanya karena performa pebalapnya yang impresif, tetapi juga karena motor yang tampil kompetitif di awal musim. Salah satu faktor yang membuat motor Aprilia terlihat kencang adalah penggunaan sistem aerodinamika baru yang terinspirasi dari teknologi Formula 1. Perangkat tersebut dikenal dengan nama F-duct, yang berfungsi mengatur aliran udara pada fairing motor untuk mengurangi hambatan udara (drag) ketika melaju di lintasan lurus. Some major aero innovations in Aprilia ????#ThaiGP ???????? pic.twitter.com/0SI9Cdud9H — MotoGP™???? (@MotoGP) February 27, 2026 Insinyur Aprilia mengembangkan sistem aliran udara baru di dalam fairing. Pada bagian depan motor terdapat slot ventilasi kecil di kedua sisi saluran udara utama. Melalui slot tersebut, udara masuk ke dalam saluran yang berada di dalam bodi motor. Selanjutnya udara mengalir melewati fairing dan keluar melalui dua lubang kecil di bagian atas panel samping, tepat di dekat lengan bawah pebalap. Dikutip dari News.GP, keunikan sistem ini terletak pada cara kerjanya yang memanfaatkan posisi tubuh pebalap. Saat melaju di lintasan lurus, pebalap biasanya merunduk untuk mengurangi hambatan udara. Dalam posisi tersebut, lengan bawah pebalap secara alami menutup lubang keluaran udara pada fairing. They enjoyed the battle but we probably enjoyed it even more ????#ThaiGP ????????https://t.co/gszepUn9pJ — MotoGP™???? (@MotoGP) March 1, 2026 Ketika lubang itu tertutup, aliran udara di dalam fairing berubah. Efeknya, hambatan udara berkurang sehingga motor bisa mencapai kecepatan yang lebih tinggi. Konsep ini mirip dengan F-duct yang pernah digunakan tim McLaren di Formula 1 pada musim 2010. Pada mobil tersebut, udara dialirkan melalui saluran di dalam sasis menuju sayap belakang. Ketika pebalap menutup lubang kecil dengan tangan, aliran udara berubah dan membuat sayap belakang kehilangan sebagian gaya tekan. Akibatnya hambatan udara berkurang dan mobil dapat melaju lebih cepat di lintasan lurus, bahkan peningkatan kecepatan bisa mencapai sekitar 10 kilometer per jam. PebalapAprilia Racing, Marco Bezzecchi, beraksi dalam sesi Practice di Sirkuit Internasional Buriram di Buriram pada 27 Februari 2026, jelang Grand Prix MotoGP Thailand. (Foto oleh Lillian SUWANRUMPHA / AFP) Meski memiliki prinsip serupa, sistem milik Aprilia tidak menggunakan komponen mekanis yang bergerak. Perubahan aliran udara sepenuhnya bergantung pada posisi tubuh pebalap. Karena itu, perangkat ini tetap sesuai dengan regulasi MotoGP yang melarang penggunaan perangkat aerodinamika yang dapat diatur secara mekanis. Sejauh ini, sistem tersebut menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Pada MotoGP Thailand, motor Aprilia termasuk yang mencatatkan kecepatan tinggi di titik pengukuran (speed trap). Aprilia dan Ducati sama-sama mampu mencatatkan kecepatan sekitar 345 kilometer per jam di lintasan lurus. Jorge Martin saat berlaga pada MotoGP Qatar 2025 Jorge Martin mengatakan efek perangkat tersebut memang bisa dirasakan, meski tidak terlalu besar. “Terasa jelas ada sedikit aliran udara lebih saat di lintasan lurus,” kata Martin dikutip via Motorsport. “Namun sejujurnya, bagi kami para pebalap, perbedaannya tidak terlalu besar. Saya juga belum pernah mencoba motor ini tanpa perangkat tersebut. Bagi saya, sejak pertama kali naik motor ini, sudah seperti ini dengan paket aerodinamika baru,” ujarnya. Namun bagaimanapun, pengembangan ini juga menunjukkan bagaimana teknologi di MotoGP semakin mendekati Formula 1, terutama dalam hal pengembangan aerodinamika. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang