Mobil matik masih sering dianggap tidak boleh didorong karena diyakini dapat merusak sistem transmisi otomatis. Anggapan tersebut masih banyak dipercaya masyarakat, terutama saat mobil mengalami mogok di jalan atau harus dipindahkan dari posisi parkir yang tidak memungkinkan. Menjawab hal tersebut, Iwan, Pemilik Iwan Motor Auto Clinic, Solo, mengatakan, anggapan mobil matik bisa rusak karena didorong merupakan informasi yang keliru. “Secara teori dan praktik di lapangan, tidak boleh mendorong mobil matik tidak berdasar atau keliru,” kata Iwan. Meski tidak langsung merusak, Iwan mengingatkan bahwa mendorong mobil matik tetap perlu dilakukan dengan metode yang benar. Warga mendorong mobil yang mogok akibat banjir di Jalan Raya Sepulu, Senin (7/7/2025). “Tapi melakukannya harus dengan cara yang benar. Caranya aktifkan shift lock untuk memindahkan tuas matik ke posisi N,” kata Iwan kepada Kompas.com, belum lama ini.Setelah posisi transmisi sudah sesuai, mobil matik aman untuk didorong maju maupun mundur. Iwan menjelaskan, saat mobil didorong, putaran roda hanya diteruskan ke satellite gear pada gardan, sehingga putaran berhenti di bagian tersebut dan tidak memengaruhi atau memutar komponen lain di transmisi otomatis. “Tapi jika mobil matik saat aki tekor dan tidak kuat starter, maka mobil tidak bisa didorong untuk menghidupkan mesin seperti cara mobil manual. Barangkali anggapan matik tidak boleh didorong berangkat dari situ,” ucap Iwan. Senada dengan hal tersebut, Eddy Handoko Wijaya, pemilik bengkel spesialis transmisi otomatis Bos Matic, mengatakan, anggapan tersebut kurang tepat karena cara kerja mobil matik berbeda dengan mobil manual. Pada mobil manual, mesin masih bisa dihidupkan kembali dengan cara didorong sambil memasukkan gigi, sebab sistem transmisinya terhubung langsung dengan putaran roda. Saat roda berputar, tenaga mekanis akan diteruskan ke mesin sehingga memungkinkan mesin kembali menyala. “Kalau mobil manual misalkan mogok, biasanya didorong, masukkan gigi ke, bisa langsung hidup kembali. Tetapi kalau mobil matik, saat sudah mogok meskipun didorong tetap tidak bisa hidup kembali,” kata Eddy kepada Kompas.com. Eddy menjelaskan bahwa meskipun mobil matik bisa didorong, tujuannya bukan untuk menyalakan mesin, melainkan hanya untuk memindahkan posisi kendaraan, misalnya saat mobil terparkir tidak sesuai atau mengalami mogok di tengah jalan. "Kalau mau didorong tidak ada masalah, atau mau ditarik pun aman," katanya. Mitos larangan mendorong mobil matik muncul karena masih banyak orang yang menyamakan sistem transmisi otomatis dengan transmisi manual. Saat mobil mogok, sebagian pengemudi kerap mencoba mendorong mobil matik dengan harapan mesin bisa menyala kembali, sebagaimana yang terjadi pada mobil manual. “Kalimat itu datang karena dulu orang berpikirnya mobil matik seperti manual. Begitu mogok di jalan, didorong lagi bisa hidup kembali. Kalau mobil matik tidak bisa, harus pakai starter,” kata Eddy. Jadi, mobil matik pada dasarnya aman untuk didorong, asalkan dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai prosedur. Mendorong mobil matik bukan bertujuan untuk menyalakan mesin, melainkan hanya untuk memindahkan posisi kendaraan dalam kondisi darurat. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang