Bensin lebih mudah menguap di suhu ruangan, sementara solar tidak mudah menguap. Rupanya, fenomena ini tak lepas dari sifat kimia kedua bahan bakar minyak (BBM) tersebut. Sifat tersebut pula yang membuat bensin lebih mudah terbakar bila terkena percikan api, sementara solar tak mudah terbakar saat kena api. Itu sebabnya, kedua BBM ini digunakan pada jenis mesin berbeda dan tak boleh tertukar. Perbedaan kecepatan penguapan ini sangat mempengaruhi performa mesin kendaraan. Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto mengatakan cepat atau lambatnya BBM menguap dipengaruhi oleh sifat bawaan hidrokarbon pada BBM. “Makin panjang rantai kimianya, makin sulit menguap. Sifat itu di dalam spesifikasi BBM disebut sebagai Reid Vapour Pressure (RVP), atau ukuran tekanan uap bahan bakar pada suhu tertentu (37,8°C), menunjukkan seberapa mudah BBM menguap,” ucap Tri kepada KOMPAS.com, Selasa (11/11/2025). Bensin terdiri dari rantai karbon pendek (C?–C??), molekulnya ringan dan mudah menguap. Sementara solar terdiri dari rantai karbon panjang (C??–C??), molekulnya berat, lengket dan susah menguap. Terlhat nozzel untuk bahan bakar minyak (BBM) Pertamax, Pertalite, Bio Solar dan Pertamina Dex di salah satu SPBU Pertamina. Semakin panjang rantai karbonnya, semakin kuat gaya antar molekulnya, butuh suhu lebih tinggi untuk berubah jadi gas. Tri menjelaskan, bensin memiliki nilai RVP 7 sampai 15 psi, sementara solar kurang dari 1 psi yakni sekitar 0,1 sampai 0,5 psi, sangat rendah, karena solar lebih berat dan tak mudah menguap. “Kecepatan penguapan ini juga yang membuat bensin mudah terbakar, sementara solar tidak, karena syarat BBM bisa terbakar yakni ketika uap BBM bercampur udara lalu kena percikan api atau panas,” ucap Tri. Itu sebabnya, pada mesin diesel dibutuhkan sistem bahan bakar yang mampu menginjeksikan solar menjadi kabut halus dan kompresi mesin tinggi untuk menghasilkan panas lebih tinggi. “Saat solar sudah menjadi uap, suhunya panas karena kompresi, maka solar akan terbakar dengan sendirinya, sementara pada mesin bensin, kompresi cenderung lebih rendah dan pengkabutan tak harus dengan injektor bertekanan tinggi,” ucap Tri. Seperti pada mobil lawas dengan sistem bahan bakar karburasi, bensin hanya disemprotkan karena gaya vakum dari udara masuk. Itu sudah cukup untuk mengubah bensin menjadi uap dan mudah terbakar dengan percikan api. Jadi, atas sifat dasar solar dan bensin tersebut, pengisian BBM pada mobil tak boleh salah agar performa tetap baik dan komponen tak mengalami kerusakan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.