Banjir yang merendam suatu mobil tidak hanya meninggalkan masalah kelistrikan atau karat pada komponen kaki-kaki, tetapi juga berisiko besar pada kondisi oli mesin. Air banjir yang masuk ke ruang mesin dapat bercampur dengan oli, mengubah fungsi pelumasan yang seharusnya melindungi komponen mesin. Jika kondisi ini diabaikan dan mobil tetap digunakan, potensi kerusakan bisa terjadi secara perlahan namun serius. Menurut Lung Lung, pemilik bengkel Dokter Mobil, oli mesin yang sudah tercampur air pada dasarnya tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Kandungan air akan menurunkan kemampuan oli dalam melumasi dan melindungi komponen logam di dalam mesin. Sludge oli menumpuk pada bagian cylinder head karena telat servis berkala "Begitu oli tercampur air, sifat pelumasnya rusak. Mesin tetap jalan, tapi gesekannya jauh lebih besar," kata Lung Lung kepada Kompas.com belum lama ini. Ia menjelaskan, salah satu dampak paling umum dari kondisi tersebut adalah terbentuknya sludge atau lumpur oli. Sludge muncul akibat reaksi antara oli, air, dan panas mesin, lalu mengendap di bagian-bagian penting seperti saluran oli dan carter mesin. Sludge ini berbahaya karena bisa menyumbat jalur pelumasan. Akibatnya, oli tidak dapat mengalir dengan optimal ke seluruh komponen mesin. Dalam jangka pendek, mesin mungkin masih terasa normal, tetapi perlindungan terhadap gesekan sudah jauh berkurang. Selain sludge, risiko lain yang tak kalah serius adalah keausan komponen mesin. Gesekan antar logam meningkat karena lapisan oli tidak lagi membentuk film pelindung yang ideal. Komponen seperti piston, dinding silinder, dan metal kruk as berpotensi mengalami haus lebih cepat. "Kalau dibiarkan, efeknya memang tidak langsung jebol. Tapi umur mesin bisa jauh lebih pendek, dan ujung-ujungnya biaya perbaikan jadi sangat mahal," ujar Lung Lung. Karena itu, Lung Lung menegaskan bahwa penggantian oli mesin setelah mobil terendam banjir bukan sekadar anjuran, melainkan langkah wajib. Bahkan, dalam beberapa kasus, penggantian perlu dilakukan lebih dari sekali untuk memastikan tidak ada sisa air yang tertinggal di dalam sistem pelumasan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang