Perilaku pemilik kendaraan dalam berburu pelek mobil saat ini telah mengalami pergeseran yang sangat signifikan.Kebiasaan lama mendatangi toko atau sentra pelek sekadar untuk cuci mata dan memilih unit di lokasi kini mulai ditinggalkan.Pembeli era digital cenderung mendatangi toko fisik dengan keputusan yang sudah matang setelah melakukan riset visual di media sosial.Fenomena Online-to-Offline ini mengubah fungsi toko fisik dari tempat mencari ide menjadi lokasi fitting serta eksekusi transaksi akhir. Karakteristik Pembelian Velg Berbeda dengan Gadget Eric Tanzil dari Permaisuri Ban menjelaskan bahwa karakteristik pembelian pelek sangat berbeda dengan komoditas barang elektronik atau gadget."Membeli pelek itu tidak bisa sekadar klik dan bayar seperti beli gadget," ujar Eric kepada Kompas.com, Selasa (6/10/2026) Ia mengungkapkan bahwa calon konsumen biasanya memanfaatkan platform media sosial untuk mempelajari referensi visual sebelum melangkah ke toko."Konsumen biasanya riset dulu lewat media sosial atau website untuk melihat portofolio pemasangan di tipe mobil yang sama," kata Eric.Setelah melihat acuan visual yang tepat, pembeli baru datang ke lokasi fisik untuk memastikan kesesuaian spesifikasi melalui proses fitting."Layanan fitting secara langsung ini yang tidak bisa digantikan oleh transaksi online murni," ucap Eric.Proses pemasangan langsung tersebut juga meminimalkan risiko kerusakan komponen serta ketidaksesuaian spesifikasi pada kendaraan kesayangan konsumen."Konsumen ingin memastikan tampilannya sesuai dengan ekspektasi di media sosial tanpa risiko merusak komponen atau salah spesifikasi," ujar Eric. Pedagang Toko Pelek sedang berjualan melalui Live Tiktok Konsumen Datang Berbekal Foto dari Ponsel Fenomena riset mandiri oleh calon konsumen ini juga dirasakan langsung oleh para pedagang di sentra pelek kawasan Cideng.Amir (35), salah satu pedagang pelek di Cideng, mengakui mayoritas pembeli kini sudah mengantongi foto referensi dari ponsel mereka."Sekarang rata-rata pembeli yang datang ke toko sudah bawa foto dari ponsel," kata Amir saat ditemui Kompas.com di Cideng, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).Ia menjelaskan bahwa tugas toko fisik kini berfokus pada penyediaan unit fisik, pencocokan ukuran teknis, dan layanan pemasangan."Jadi tugas kami di toko fisik adalah menyediakan fisiknya, mencocokkan ukuran, dan membantu proses pasang," ujar Amir.Pergeseran tren belanja ini membuktikan bahwa kehadiran platform media sosial dan toko fisik saling melengkapi ekosistem ritel otomotif.Media sosial berfungsi efektif sebagai etalase riset visual, sementara toko fisik memberikan jaminan kepastian teknis bagi pemilik kendaraan.