Kerusakan jalan banyak terjadi di mana-mana, termasuk di Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa. Siapa yang bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan tersebut?Kerusakan jalan di Jalur Pantura itu kerap memicu kecelakaan lalu lintas. Salah satu titik rawan berada di wilayah Cikampek, tempat terjadinya kecelakaan sepeda motor akibat kondisi jalan yang berlubang. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan mengenai kewenangan dan tanggung jawab jalan nasional di Jalur Pantura. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak memiliki kewenangan untuk melakukan perbaikan langsung, karena Jalur Pantura statusnya sebagai jalan nasional yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU)."Jalan Pantura itu jalur nasional yang menghubungkan Jakarta hingga Jawa Tengah, bahkan Jawa Timur. Di wilayah Jawa Barat sendiri, ruasnya dari Bekasi sampai Cirebon. Banyak lubang dan sangat berbahaya, tetapi itu bukan kewenangan pemerintah provinsi," kata Dedi Mulyadi di akun media sosialnya.Dedi mengaku telah bertemu Menteri PU untuk membahas jalan rusak di Jalur Pantura. Dia secara khusus menyampaikan kondisi kerusakan jalan serta tingginya risiko kecelakaan yang terus terjadi di jalur Pantura.Dalam pertemuan tersebut, Menteri PU menyampaikan komitmen perbaikan jalan Pantura akan dilakukan pada tahun ini. Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap proses perbaikan dapat dilaksanakan secepat mungkin agar tidak terus memakan korban."Pak Menteri PU menyampaikan bahwa tahun ini akan dilakukan perbaikan. Mudah-mudahan bisa cepat dikerjakan supaya kecelakaan tidak terus berulang di jalur Pantura," kata Dedi.Praktisi keselamatan berkendara yang juga anggota Kebijakan dan Advokasi Berkendara Direktorat Keselamatan Berkendara Ikatan Motor Indonesia (IMI) Erreza Hardian mengatakan ada beberapa cara agar pengendara tetap aman saat banyak jalanan rusak. Cara paling ideal adalah menghindari perjalanan menggunakan kendaraan pribadi."Buat pengemudi, banyak teknik yang bisa dipakai, paling akurat adalah usahakan tidak di jalan pada kondisi saat ini, kurangi mobilitas kalau bisa. Itu paling efektif menurunkan risiko. Atau gunakan transportasi umum opsi kedua," kata Reza kepada detikOto, Kamis (29/1/2026).Lanjut Reza, jika tetap harus mengemudi maka cara paling aman adalah dengan mengurangi kecepatan. Mengurangi kecepatan bertujuan agar bisa melihat, berpikir dan bertindak."Lihat 2-3 mobil di depan kita tuh gerakan gimana, goyang-goyang artinya ada genangan, samakan (persepsi) dengan pasti ada lubang," ujarnya.Reza menyebut buat pemotor cukup sulit untuk menangani kondisi seperti ini. Menurutnya, pemotor perlu banyak belajar teknik berkendara."Istilah kami para instruktur adalah upgrading skill. Ada teknik khusus dengan juga berbeda di setiap tipe motornya. Yang paling bisa cepat dan semua orang lakukan saat ini yaitu jangan terlalu kaku pegang setang motornya. Genggaman yang longgar, jangan menggenggam setang terlalu erat. Genggaman yang rileks memungkinkan motor bergoyang sedikit tanpa mentransfer seluruh gaya ke tubuh bagian atas Anda. Berdirilah sedikit di pijakan kaki (jika aman) untuk menggunakan kaki Anda sebagai peredam kejut sekunder, mencegah guncangan pada tubuh dapat mengurangi risiko terjatuh," jelasnya.