Insiden adu kambing antara bus ALS dan truk tangki di Musi Rawas Utara (Muratara) kembali membuka tabir gelap perilaku mengemudi di jalur lintas antarprovinsi. Fenomena kendaraan besar yang nekat mengambil jalur berlawanan seolah sudah menjadi pemandangan sehari-hari, baik di Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum) maupun Pantura. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan, tindakan pengemudi angkutan besar tersebut sering kali dipicu oleh kondisi infrastruktur yang buruk di sisi kiri jalan. Salah satu truk yang terlibat kecelakaan di jalan lintas sumatera di Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (20/7/2025) malam. "Truk dan bus sering mengambil jalur lawan karena bahu jalan mereka berlubang atau konturnya miring. Di musim hujan, cekungan itu tergerus air dan semakin dalam," ujar Jusri kepada Kompas.com, Rabu (6/5/2026). Kondisi bahu jalan yang tidak rata ini membuat pengemudi kendaraan besar enggan bertahan di jalurnya karena berisiko membuat kendaraan tidak stabil atau terguling. Alhasil, mereka memilih "memakan" jalur lawan tanpa mempedulikan keselamatan pengguna jalan lain. Menurut Jusri, perilaku ini menciptakan semacam dominasi atau hukum rimba, di mana kendaraan yang lebih kecil dipaksa untuk keluar dari aspal demi menghindari adu kambing. "Kebiasaan pengemudi bus atau truk ini sering mengabaikan kendaraan yang lebih kecil. Akibatnya, mobil pribadi atau motor tersingkirkan, dipaksa minggir sampai bahu jalan karena mereka (bus dan truk) tidak mau masuk ke bagian jalan yang rusak di sisi mereka," kata Jusri. Fenomena ini tentu sangat berbahaya, terutama pada jalur dua arah (two-way) yang sempit. Jika pengemudi kendaraan kecil tidak waspada atau tidak memiliki ruang untuk menghindar, kecelakaan fatal seperti yang menimpa bus ALS di Muratara sangat sulit dihindari. Pengguna jalan pun diimbau untuk selalu waspada saat melihat kendaraan besar dari arah berlawanan yang mulai melambung ke tengah, karena besar kemungkinan mereka sedang menghindari cacat pada permukaan jalan di sisi kiri mereka. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang