Saat melaju di jalan tol dengan kecepatan tinggi, banyak pengemudi merasa sudah aman hanya karena menjaga jarak dengan kendaraan di depan. Padahal, ada satu kondisi berbahaya yang sering tidak disadari, yakni “boxed”, yaitu ketika mobil terjebak di antara kendaraan lain yaitu depan, belakang, kiri, dan kanan. Dalam kondisi ini, pengemudi tidak punya cukup opsi manuver jika terjadi pengereman mendadak atau kendaraan lain melakukan kesalahan. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan prinsip dasar defensive driving adalah jangan sampai terjebak dalam kondisi tersebut. Tabrakan akibat tidak bisa menjaga jaga jarak aman Cara keluar dari situasi boxed Menurut Jusri, cara paling sederhana untuk keluar dari situasi boxed adalah dengan menurunkan kecepatan secara bertahap. “Kurangi kecepatan. Ketika kita mengurangi kecepatan, maka jarak kita dengan di depan akan semakin panjang, dan yang belakang akan melakukan perlambatan," katanya kepada Kompas.com, Senin (17/2/2026). "Karena kita mengurangi kecepatan sedikit-sedikit ya, secara bertahap gitu. Otomatis yang belakang agak jauh nih. Setidaknya kita sudah ada ruang lebih panjang ke depan," katanya. Jika merasa jarak dengan kendaraan depan sudah cukup jauh, maka pengemudi bisa pindah jalur agar tidak terjebak dalam kondisi "boxed."[DIRECT_SENTENCE] ujarnya. Fitur Highway Driving Assist yang meningkatkan keamanan mengemudi di jalan tol "Dengan demikian, kendaraan di belakang akan maju ke depan, sementara kita, ruang kita akan lebih meluasa. Di mana kiri kita kosong, belakang kita kosong," kata Jusri. Namun Jusri mengatakan, jika mau pindah jalur maka bisa ambil jalur kiri. Sebab di kanan ada pembatas jalan. "Kanan mungkin sudah jalur pembatas ya, karena itu yang paling aman adalah kita ke kiri. Kita ke kiri, yang belakang pasti maju, dia akan mengisi gitu. Kayak permainan dadu, atau halma," ujarnya. Ia menegaskan, prinsip don’t get boxed atau jangan masuk situasi tersebut selalu diajarkan dalam teknik defensive driving. Petugas dari PJR Jatim III Polda Jawa Timur, memeriksa kondisi kendaraan yang mengalami kecelakaan di jalan tol Jombang - Mojokerto, Rabu (7/1/2026). Menurut Jusri, banyak pengemudi tidak menyadari risiko ini karena terbiasa mengemudi tanpa bekal pelatihan atau pemahaman soal keselamatan. "Banyak orang, karena seringnya naik mobil tanpa diawali dengan pendidikan, pelatihan, atau referensi," kata Jusri. "Mereka itu kadang-kadang nyaman. Begitu di belakang ada kendaraan, di kiri kanan dan depan juga ada kendaraan, mereka tidak pernah berpikir mengenai lingkaran aman mereka,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang