Berkendara di jalan tol memang terasa lancar dan nyaman. Namun, ada satu kondisi berbahaya yang sering tidak disadari pengemudi, yakni situasi “boxed”. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika mobil terjebak di antara kendaraan lain tanpa memiliki ruang untuk menghindar. Artinya, ada kendaraan di depan, belakang, serta di sisi kiri dan kanan dalam jarak yang rapat. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa konsep ini berkaitan erat dengan prinsip defensive driving atau mengemudi defensif. Ilustrasi mengemudi di jalan tol. Prinsip Antisipasi dalam Mengemudi “Prinsip di dalam defensive driving, yaitu filosofinya antisipasi. Itu kita selalu menjaga ruang depan, kiri, kanan, belakang," kata Jusri kepada Kompas.com, Senin (16/2/2026). Jusri mengatakan, banyak yang salah sangka konsep menjaga jarak hanya kendaraan di depan padahal juga berlaku pada samping kiri-kanan dan belakang. "Nah, dalam mengemudi itu selalu menyediakan ruang untuk menghindar. Kalau ke depan itu orang sudah paham dengan cara aman," ujarnya. "Menyediakan jarak aman, tujuannya ada ruang, kalau ada kecelakaan, ada pemberhentian tiba-tiba. Atau ada gejala orang menabrak dari belakang, kita bisa maju ke depan," kata Jusri. "Atau sebaliknya, kalau di depan berhenti tiba-tiba, kita masih punya jarak waktu untuk mengerem," kata Jusri. Risiko Terjebak dalam Kondisi Boxed Ilustrasi mengemudi di jalan tol saat hujan. Menurut Jusri, saat terjebak dalam kondisi boxed maka sangat berisiko karena pengemudi tidak punya opsi manuver saat terjadi situasi darurat. "Nah, dalam mengemudi itu, lebih-lebih dalam kecepatan tinggi, kita harus menjaga ruang. Jangan sampai kiri kanan belakang itu kita terjebak dalam satu kondisi boxed," katanya. "Jadi, supaya kita bisa menghindari ancaman tabrakan dari side crash, atau kiri kanan, ataupun belakang, ataupun depan," ujarnya. Secara sederhana, kondisi boxed bisa dibayangkan seperti berada di dalam “kotak” yang dibentuk kendaraan lain. Saat ada mobil di depan mendadak mengerem atau kendaraan dari belakang melaju terlalu cepat, ruang untuk menghindar menjadi sangat terbatas. PT Cibitung Tanjung Priok Port Tollways (CTP), mengupayakan integrasi tarif Jalan Tol Cibitung?Cilincing (JTCC) dengan sejumlah ruas tol di Jakarta Di jalan tol yang kecepatannya tinggi, risiko ini makin besar. Semakin cepat laju kendaraan, semakin panjang jarak yang dibutuhkan untuk berhenti. Jika ruang depan, samping, dan belakang terlalu sempit, peluang kecelakaan beruntun juga meningkat. Strategi Menghindari Kondisi Boxed Kondisi Innova yang mengalami kecelakaan di Jalan Tol Lampung, Minggu (27/7/2025). Dua orang tewas dalam kecelakaan tersebut. Karena itu, pengemudi disarankan tidak hanya fokus menjaga jarak dengan kendaraan di depan, tetapi juga memperhatikan situasi di sekeliling mobil. "Nah caranya gimana? Jangan pernah kita dalam kondisi boxed, atau terjebak, tidak ada ruang sama sekali," ujar Jusri. "Kalau kita berada di tol, kalau kiri kanan kita ada kendaraan lain, belakang jaraknya tidak aman, depan tidak aman, itu adalah tanda-tanda kita dalam kondisi yang sangat rentan dengan risiko keparahan atau risiko ketika terjadi kecelakaan," katanya. Jika mulai merasa terjebak di antara kendaraan lain, Jusri mengatakan pengemudi mesti bertahap mencari ruang aman, misalnya dengan menambah jarak ke depan, berpindah lajur secara aman, atau menyesuaikan kecepatan. "Oleh karena itu, kita harus punya mindset selalu menjaga jarak, kalaupun terjebak sedemikian rupa," kata Jusri. "Misalnya terjebak nih, kiri kanan ada kendaraan, depan ada kendaraan, belakang ada kendaraan,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang