Berkendara di jalan tol bukan hanya soal menjaga kecepatan, tetapi juga memastikan posisi kendaraan tetap aman. Salah satu kondisi yang perlu dihindari pengemudi adalah posisi boxed atau terkurung kendaraan lain. Kondisi ini berisiko terutama saat mobil melaju dalam kecepatan normal tol atau kecepatan tinggi. Saat ruang gerak tertutup di semua sisi, pengemudi tidak memiliki jalur evakuasi ketika terjadi situasi darurat. Ilustrasi mengemudi di jalan tol. Lantas, bagaimana jika kondisi boxed terjadi saat kendaraan melaju pelan, misalnya ketika musim libur atau mudik Lebaran? Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan, persepsi soal bahaya kondisi tersebut memang perlu dilihat dari konteks kecepatan. “Oke, memang korelasi pertanyaan ini akan sulit sekali. Kalau lalu lintas padat, biasanya citranya kecepatan selalu lebih pelan," kata Jusri, kepada Kompas.com, Senin (16/2/2026). "Kalau kecepatan lebih pelan, maka kecelakaan yang terjadi umumnya hanya benturan-benturan ringan, karena kendaraan saling rapat. Tapi yang kita maksud di sini adalah situasi saat kendaraan melaju kencang, dengan kecepatan relatif normal di tol, yakni sekitar 80 Km per jam. Pada kecepatan 80 Km per jam, energinya besar ketika terjadi benturan," katanya. Menurut Jusri, kondisi berbeda terjadi saat musim mudik atau liburan di mana kondisi lalu lintas di jalan tol padat merayap. “Sementara saat musim mudik atau liburan, kecepatan di tol rata-rata tidak sampai 80 km per jam karena kondisi trafik. Sangat pelan, bahkan dibuat contraflow atau satu arah. Itu bagian dari manajemen lalu lintas yang selalu diterapkan karena volume kendaraan sangat banyak," kata Jusri. Artinya, terkurung dalam kondisi boxed memang tidak ideal. Profil Sedyatmo insinyur penerima fondasi cakar ayam yang namanya diabadikan sebagai nama jalan tol di Jakarta yakni Tol Bandara Soetta. Namun, dalam situasi lalu lintas yang merayap, risikonya berbeda dibanding saat kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi. “Karena volume jalan tidak sebanding dengan volume kendaraan yang masuk atau yang beredar, apalagi kalau bicara spesifik di tol. Tidak berbanding, sehingga yang terjadi adalah trafik luar biasa atau macet, istilahnya congested. Kalau sudah macet, kendaraan relatif merayap," katanya. Ia menegaskan, anjuran untuk tidak berada dalam kondisi boxed paling relevan saat arus lalu lintas normal. "Jadi yang kita maksud ini adalah dalam kecepatan normal, dalam kondisi normal, jargon ‘don’t get boxed’ ini sangat direkomendasikan agar tidak terjadi fatalitas," ujar Jusri. "Tapi dalam kondisi tidak normal, seperti trafik saat liburan nanti, itu memang tidak normal. Indikatornya adalah volume kendaraan tinggi dan selalu ada rekayasa lalu lintas. Jadi konteksnya harus disampaikan dalam kondisi normal,” katanya. Apa Itu Kondisi Boxed Jalan Tol Jakarta-Cikampek Kondisi boxed adalah situasi ketika kendaraan terkurung oleh kendaraan lain di semua sisi depan, belakang, kiri, dan kanan, sehingga tidak memiliki ruang untuk menghindar saat terjadi keadaan darurat. Dalam kecepatan tinggi, kondisi ini berbahaya karena energi benturan besar dan peluang menghindar sangat kecil. Karena itu, dalam berkendara di tol, pengemudi perlu selalu memiliki “ruang aman” sebagai jalur keluar, bukan sekadar mengikuti arus lalu lintas. Warga Kendal yang kembali ke Jakarta. KOMPAS.COM/SLAMET PRIYATIN KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang