Perselisihan antarpengguna jalan raya masih sering ditemui di berbagai wilayah. Berada di ruang publik membuat setiap pengendara pasti bersinggungan dengan berbagai karakter, kelas sosial, hingga latar belakang yang beragam. Ketika gesekan terjadi, tidak jarang pengendara merasa paling benar dan langsung menyalahkan pihak lain, sehingga perselisihan di jalan tidak terelakkan. “Cekcok tadi dengan sopir Angkot, mobil kami dikejar dari belakang. Takut kami dimassa, jalan jalan di Siantar kami kurang tahu,” ucap S saat ditemui di ruang pemeriksaan Satlantas. Merasa Benar di Jalan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa dari perspektif defensive driving, mengalah adalah langkah terbaik meskipun kita merasa berada di posisi yang benar. “Di jalan itu harus antisipatif dan punya empati. Kalau ada yang ugal-ugalan, anggap saja orang bodoh dan silakan biarkan dia lewat,” ujar Jusri kepada Kompas.com, belum lama ini. Jusri menambahkan, saat seseorang merasa benar dan haknya terganggu, dorongan emosi untuk marah akan menguasai diri. Hal tersebut justru berdampak buruk bagi keselamatan pengendara itu sendiri. “Begitu kita marah, kesal, dan tidak terima, kemampuan kognitif kita turun. Kemampuan analisis dan logika kita turun, bahkan nantinya membuat kita capek, frustrasi, cemas, hingga bersikap impulsif,” kata Jusri. Urusan Salah dan Benar Oleh karena itu, Jusri menegaskan bahwa jalan raya bukanlah tempat untuk membuktikan atau mengadili siapa yang salah dan siapa yang benar. “Enggak boleh, urusan salah dan benar itu sudah jelas bukan hak kita dari perspektif defensif. Kalaupun Anda merasa ada trigger dan Anda merasa benar, seharusnya Anda tidak melakukan hal tersebut (marah),” tutur Jusri. Menurutnya, penentuan kesalahan secara hukum memiliki ranah tersendiri yang berada di luar kewenangan sesama pengguna jalan. “Sekali lagi, salah atau benar itu bukan domain kita. Salah dan benar itu ada di domain hakim, di pengadilan secara hukum,” ucap Jusri.