Insiden perselisihan yang melibatkan rombongan motor gede (moge) dengan pengguna jalan lain masih kerap berulang. Bahkan, tak jarang pengendara moge yang sudah berusaha tertib tetap memicu rasa tidak senang dari pengendara lain. Stigma arogan yang terlanjur melekat akibat perilaku sebagian oknum kerap membuat publik hilang simpati. Alhasil, gesekan kecil di jalan raya dapat dengan mudah memicu percekcokan. Ketidaksenangan Pengguna Jalan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa karakter fisik moge itu sendiri kerap menjadi pemicu awal timbulnya rasa tidak nyaman bagi pengguna jalan lain. Harley Owners Group (H.O.G.) Anak Elang Jakarta Chapter bakal menggelar turing jarak jauh bertajuk 6th Official Journey pada 6?10 Mei 2026 "Motor ini besar dimensinya, bunyinya beda. Nah, ini juga akan membuat masyarakat pengguna jalan yang lain tidak nyaman," ujar Jusri kepada Kompas.com, Selasa (15/9/2026). Jusri menambahkan, persepsi terhadap moge yang identik dengan status eksklusif dan barang mahal kerap membentuk kompilasi ketidaksenangan di tengah masyarakat. Penumpukan persepsi negatif ini rentan tersulut ketika terjadi persinggungan di jalan. Utamakan Empati di Jalan Untuk mencegah terjadinya perselisihan, Jusri mengingatkan para penunggang moge agar lebih peka dan mampu meredam potensi friksi, terutama pada momen rawan seperti kemacetan lalu lintas. "Pemoge juga harus menjaga agar tidak ada gesekan-gesekan yang bisa menimbulkan kumpulan friksi, yang bisa menyebabkan api emosi muncul ketika ada timing yang pas, seperti macet atau ada benturan," kata Jusri. Ia menegaskan pentingnya kesadaran bahwa jalan raya merupakan fasilitas bersama yang digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat. "Sekali lagi, ingat jalan raya adalah ruang publik. Selain kita harus tertib, kita harus antisipatif, terus juga kita harus empati," tutur Jusri.