Kecelakaan lalu lintas kembali mengingatkan soal risiko besar di balik kebiasaan sepele saat berkendara, menahan kantuk. Peristiwa tragis di ruas Tol Pejagan–Pemalang Km 290 jalur B (one way), Kamis (19/3/2026), menjadi contoh nyata bagaimana kondisi pengemudi yang tidak prima bisa berujung fatal. Dikutip , Kamis (19/3/2026), insiden tersebut melibatkan sebuah Toyota Calya bernomor polisi B-2399-FFR dan bus Hino Agra Mas bernomor polisi T-7622-DA. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan bermula saat mobil melaju dari arah barat menuju timur atau ke arah Semarang. Saat tiba di lokasi kejadian, pengemudi diduga mengantuk. Kendaraan kemudian oleng ke kanan dan menabrak bagian belakang bus Agra Mas yang saat itu tengah berhenti di bahu jalan. Bus diketahui telah menyalakan lampu darurat sebagai tanda peringatan. Akibat kecelakaan tersebut, pengemudi Toyota Calya dan satu orang penumpang mengalami luka-luka. Sementara tiga penumpang lainnya dilaporkan meninggal dunia. Peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan yang dipicu oleh faktor kelelahan dan kantuk saat berkendara. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menyebut, kesalahan pengemudi masih menjadi penyebab terbesar kecelakaan di jalan raya. “Menyetir sambil mengantuk sudah jelas bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Mengantuk bisa membuat pengemudi berada di posisi setengah sadar. Artinya, mata tidak bisa membaca lalu lintas dengan benar dan otak sudah tidak dapat merespon situasi lingkungan,” kata Sony. Ilustrasi microsleep. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa microsleep saat mudik bisa terjadi dalam hitungan detik dan berisiko menyebabkan kecelakaan fatal. Sony melanjutkan, pengemudi yang mengantuk sebenarnya tidak sepenuhnya sadar saat mengemudi. Sebagian pikirannya sudah berada di bawah alam sadar sehingga kemampuan membaca situasi di jalan menjadi terganggu. “Perilakunya loss, ketika mengemudi ya hanya lurus tanpa kontrol dan berhenti ketika sudah menabrak objek di depan atau samping kiri kanannya,” kata dia. Menurut Sony, kantuk sejatinya merupakan kondisi yang disadari oleh pengemudi. Namun, banyak yang tetap memaksakan diri karena merasa tanggung atau ingin cepat sampai tujuan. Tidak sedikit pula yang mencoba mengatasinya dengan cara instan seperti merokok, mengobrol, minum kopi, atau bernyanyi. Padahal, kondisi otak sebenarnya sudah tidak optimal untuk berkendara. “Cara benar menyiasati kantuk adalah harus berhenti, tidur atau lakukan refresh merangsang otot, otak dan syaraf,” ujar Sony. Belajar dari kejadian ini, penting bagi setiap pengemudi untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh. Mengemudi dalam keadaan mengantuk bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi menyangkut keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang