Kecelakaan yang melibatkan mobil Toyota Innova yang ditumpangi anggota Komisi X DPR RI Muhammad Hilman Mufidi atau Gus Hilman di Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) KM 834, Sabtu (23/5/2026), kembali menjadi pengingat pentingnya menjaga konsentrasi saat berkendara, terutama ketika tubuh mulai lelah atau mengantuk. Berdasarkan informasi kepolisian, kecelakaan terjadi antara Toyota Innova dan dump truk yang melaju searah dari Probolinggo menuju Pasuruan. Kepala Unit Penegakan Hukum Satlantas Probolinggo Kota, Aipda Muhammad Taufik Rahadian, menjelaskan, mobil Innova melaju dari arah timur ke barat atau Probolinggo menuju Pasuruan bersama sejumlah penumpang, termasuk Gus Hilman. "Sopir kendaraan Innova diduga mengantuk atau kurang konsentrasi sehingga kendaraan ke kiri dan menabrak bagian bak belakang sebelah kanan dump truk," ujarnya, dikutip dari Kompas.com, Minggu (24/5/2026). Peristiwa ini sekaligus menjadi perhatian terkait efektivitas fitur keselamatan modern pada mobil saat menghadapi risiko pengemudi mengantuk. Ilustrasi mengantuk saat mengemudi. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana mengatakan, saat ini banyak kendaraan sudah dibekali teknologi keselamatan yang dirancang membantu pengemudi tetap waspada, seperti pengingat pengemudi lelah hingga fitur penjaga lajur. Namun, menurut dia, masih banyak pengguna kendaraan yang belum memahami fungsi sebenarnya dari teknologi tersebut. “Memang teknologi pada kendaraan sekarang sudah canggih-canggih. Fitur-fitur belimpah tersemat di kendaraan, tetapi kecelakaan tetap tinggi. Masalahnya pengemudi tidak paham fungsi dari fitur-fitur tersebut. Tahu, tapi tidak paham," ujar Sony, kepada Kompas.com, Minggu (24/5/2026). Ia menjelaskan, fitur pengingat pengemudi mengantuk pada dasarnya hanya memberi sinyal atau peringatan, bukan mengambil alih kendali kendaraan. Selain itu terdapat fitur lane keeping assist yang membantu menjaga mobil tetap berada di jalurnya saat pengemudi mulai kehilangan fokus. “Fitur pengingat ketika pengemudi ngantuk kan hanya berupa signal tidak lebih dan ada fitur line keeping assist misalnya yang memastikan kendaraan tetap dijalurnya dan fitur-fitur safety lainnya. Semua itu sifatnya hanya membantu pengemudi untuk mengingatkan adanya resiko bahaya,” kata Sony. Karena itu, fitur keselamatan tetap tidak bisa menggantikan peran penuh pengemudi saat berkendara. “Semua kembali kepada kesadaran si pengemudi, setelah diberi peringatan harus apa? Jika tidak dilakukan apa resikonya? Kendaraan-kendaraan yang ada dan canggih beredar itu belum full autonomous, masih harus dikontrol pengemudi,” ucapnya. Sony melanjutkan, gejala kantuk pada setiap pengemudi berbeda-beda. Namun, ia mengingatkan pengemudi untuk tidak menganggap ringan gejala tersebut. "Ukuran kantuk yang datang pada masing-masing pengemudi itu beda-beda, rata-rata menganggap ringan karena datangnya diam-diam. Itu kenapa kecelakaan akibat ngantuk tinggi bisa satu jam atau tiga sampai empat jam," kata Sony. "Pastikan merasakan lewat body signal. Seperti pegal, mata sepat, menguap, segera menepi cari rest area. Lakukan refresh terhadap motorik dan sensorik," lanjutnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang