PT JIO Distribusi Indonesia (JDI) sebagai agen tunggal pemegang merek BAIC di Tanah Air mulai mempersiapkan produksi lokal mobil listrik BAIC T1, yang ditargetkan berlangsung pada pertengahan 2027. Tak hanya merakit kendaraan, perusahaan juga tengah menyiapkan fasilitas perakitan baterai di dalam negeri sebagai upaya memenuhi ketentuan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 60 persen. Sebagai informasi, pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2023 menetapkan target TKDN kendaraan listrik secara bertahap, yakni minimal 40 persen pada periode 2022-2026, naik menjadi 60 persen pada 2027-2029, dan 80 persen mulai 2030. Ilustrasi baterai mobil listrik "Untuk CKD production line kurang lebih satu tahun. Mudah-mudahan pada Juli 2027 produksi CKD sudah bisa berjalan di Indonesia untuk memenuhi TKDN 60 persen," kata Chief Operating Officer PT JDI, Dhani Yahya di Alam Sutera, Tangerang, belum lama ini. Fokus Lokalisasi Baterai Dhani menjelaskan, perakitan BAIC T1 nantinya tetap dilakukan di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM) yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat. Namun, untuk memenuhi target kandungan lokal, BAIC akan melokalisasi proses perakitan baterai. Saat ini perusahaan tengah menjajaki kerja sama dengan salah satu pemasok baterai di Indonesia. Meski identitas mitra tersebut belum bisa diungkap, proyeknya telah memasuki tahap awal. "Proyek baterai ini sudah berjalan. Kick off meeting juga sudah dilakukan, dengan dukungan BAIC International maupun prinsipal perusahaan baterai yang bekerja sama di Indonesia," ujar Dhani. Menurut dia, sel baterai masih akan didatangkan dari luar negeri alias impor. Sementara, untuk proses perakitan battery pack serta sejumlah komponennya akan dilakukan di dalam negeri. "Yang masih CBU nanti hanya sel baterainya. Komponen lainnya sudah diproduksi dan dirakit secara lokal," kata Dhani. Ia juga memastikan BAIC T1 tetap menggunakan baterai berjenis Lithium Ferro Phosphate (LFP), sama seperti model globalnya. Pabrik baterai VinFast Investasi Capai Rp 65 Miliar Untuk mendukung proyek tersebut, BAIC menyiapkan investasi sekitar 28 juta yuan atau setara Rp 65 miliar. Dana itu dialokasikan khusus untuk membangun kemampuan perakitan baterai di Indonesia. "Investasinya cukup besar, sekitar 28 juta yuan atau kurang lebih Rp 65 miliar. Kami siap berinvestasi dari sisi baterainya," ujar Dhani. Ia menambahkan, kerja sama dengan mitra lokal akan diumumkan setelah seluruh proses administrasi dan penandatanganan kontrak selesai. "Nanti setelah kerja samanya sudah ditandatangani, baru bisa kami sampaikan kepada media bagaimana proses assembly baterai lokal di Indonesia," kata Dhani.