PT Sokonindo Automobile memasuki langkah baru dengan kembali berkompetisi di segmen mobil penumpang di pasar Indonesia melalui produk bergenre sport utility vehicle (SUV), DFSK E5 Plus berteknologi plug-in hybrid (PHEV). Keseriusan DFSK kembali berkompetisi di segmen mobil penumpang setelah sebelumnya fokus di segmen niaga, ditunjukkan melalui proses perakitan lokal E5 Plus dengan skema CKD menggunakan fasilitas pabriknya di Cikande, Serang, Banten. Hal ini tak sekadar agar produknya bisa lebih kompetitif di tengah persaingan, namun juga menunjukkan kesiapan dari sisi fasilitas manufaktur yang dimiliki DFSK sebelum memasarkan produk-produknya di Indonesia. DFSK E5 Plus "Dari sebelum kami menjual produk, kami sudah buka pabrik ya. Kita tahu brand-brand lain yang membuka pabrik untuk kapasitas produksinya itu jarang yang ada di atas 80 persen, bahkan di bawah 50 persen, sementara kami kapasitas saat ini 30.000 unit per tahun dan bisa dimaksimumkan hingga 50.000 unit," kata Cing Hok Rifin, Director Sales Center PT Sokonindo Automobile, di Nusa Dua, Bali, Kamis (24/9/2026). Fasilitas pabrik DFSK di Indonesia diklaim telah menerapkan Manufacturing 4.0 dengan dukungan teknologi otomasi dan robotik pada setiap tahapan produksi. Pada Stamping Workshop, tingkat otomasi mencapai 95 persen, sementara pada Painting Workshop mencapai 90 persen. Adanya teknologi tersebut mendukung proses produksi yang lebih presisi dan konsisten. Selain itu, proses manufaktur juga diperkuat dengan integrated End-of-Line inspection serta final check dengan dukungan teknologi OTA guna memastikan setiap kendaraan melewati proses pemeriksaan yang sistematis sebelum sampai kepada konsumen. TKDN Baterai Sementara ketika ditanya soal tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang digunakan pada E5 Plus, Cing Hok menjelaskan bahwa untuk saat ini masih dalam proses pengurusan. DFSK E5 Plus "TKDN kami masih dalam proses. Komponen seperti baterai yang digunakan E5 Plus sampai saat ini masih dari China, namun nanti kami akan menggandeng vendor lokal kami untuk develop baterainya sendiri. Mudah-mudahan tahun depan mulai proses TKDN-nya," ucapnya. Cing Hok menjelaskan, TKDN pertama yang menjadi target untuk E5 Plus adalah baterai. Hal ini karena kontribusinya terhadap nilai persentase TKDN cukup besar. Sementara untuk TKDN secara keseluruhan, DFSK menargetkan nilainya bisa mencapai lebih dari 40 persen nantinya. DFSK E5 Plus "Biasanya 35 persen (untuk baterai), jadi kami targetkan agar tahun depan sudah bisa menggunakan baterai lokal, karena meski PHEV tapi baterai E5 Plus ini besar sampai 25 kWh. Target kami di atas 40 persen (TKDN), karena banyak aspek dan lain-lainnya saat ini masih susah dicari di Indonesia," katanya. Fondasi Manufaktur Sebelumnya, Franz Wang, Chief Operating Officer PT Sokonindo Automobile menjelaskan alasan utama pihaknya meluncurkan E5 Plus untuk pasar Indonesia. Menurut Franz, selain menjadi penanda transformasi DFSK yang sebelumnya berfokus pada penjualan kendaraan niaga, kehadiran E5 Plus juga menandakan kesiapan pihaknya sebagai penyedia solusi mobilitas berbasis energi baru. "Alasan mengapa E5 Plus diluncurkan di pasar Indonesia karena Indonesia bagi E5 Plus adalah pasar strategis. Kami memiliki pabrik dengan investasi yang besar di Indonesia dan dengan peluncuran E5 Plus, melambangkan kami memasuki tahap baru, yaitu tahap solusi mobilitas cerdas energi baru (new energy intelligent mobility solution stage)," ucapnya beberapa waktu lalu. DFSK E5 Plus PHEV Kapabilitas manufaktur dari fasilitas pabrik juga menjadi bagian dari fondasi DFSK dalam menghadirkan produk yang tidak hanya menawarkan teknologi baru, tetapi juga kualitas dan pengalaman yang sejalan dengan arah baru brand-nya.