Keamanan baterai masih menjadi salah satu pertimbangan utama masyarakat sebelum beralih ke kendaraan elektrifikasi, termasuk Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Seiring meningkatnya minat terhadap kendaraan elektrifikasi di Indonesia, berbagai pertanyaan mengenai aspek keselamatan dan keandalan teknologi ini masih menjadi perhatian calon konsumen. Product Expert PT Sokonindo Automobile, Ichsan Aria Putra, mengatakan sistem baterai pada kendaraan PHEV telah melalui berbagai tahapan pengujian sebelum dipasarkan kepada konsumen. "Sistem Battery Management System (BMS) kami juga dirancang untuk menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang dengan mengoptimalkan proses pengisian, penggunaan, hingga perlindungan terhadap berbagai kondisi operasional, sehingga konsumen dapat memiliki rasa aman dan percaya diri dalam setiap perjalanan," kata Ichsan dalam keterangan resminya, Selasa (4/8/2026). DFSK E5 Plus Menurut dia, keberadaan Battery Management System (BMS) berperan penting dalam memantau sekaligus mengatur kondisi baterai agar tetap bekerja optimal, termasuk saat proses pengisian daya maupun ketika kendaraan digunakan dalam berbagai kondisi berkendara. Selain faktor keamanan baterai, teknologi PHEV juga dinilai mampu memberikan fleksibilitas penggunaan karena menggabungkan motor listrik dan mesin pembakaran internal. Konsep tersebut memungkinkan kendaraan digunakan dalam mode listrik untuk perjalanan harian, sekaligus tetap memiliki dukungan mesin bensin saat menempuh perjalanan jarak jauh. Head of Sales & Marketing PT Sokonindo Automobile, Doni Putra Okten, mengatakan teknologi PHEV dirancang agar pengguna tetap mendapatkan pengalaman berkendara elektrik tanpa mengurangi fleksibilitas mobilitas. "Kami percaya elektrifikasi tidak boleh mengorbankan kebebasan berkendara. PHEV menghadirkan pengalaman berkendara elektrik untuk aktivitas sehari-hari sekaligus memberikan ketenangan untuk melakukan perjalanan jarak jauh tanpa dibayangi range anxiety," kata Doni. Sementara itu, Founder EVSafe Indonesia, Mahaendra Gofar, menilai keberhasilan transisi menuju kendaraan elektrifikasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi kendaraan, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukungnya. DFSK E5 Plus di GIIAS 2026. Menurut dia, terdapat tiga aspek utama yang harus berjalan beriringan, yakni keselamatan kendaraan dan baterai, edukasi kepada masyarakat, serta ketersediaan infrastruktur pendukung seperti jaringan pengisian daya, layanan purnajual, dan sumber daya manusia yang kompeten. "Tidak ada satu solusi yang dapat menjawab seluruh kebutuhan elektrifikasi. PHEV memiliki peran strategis sebagai jembatan yang mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Namun, keberhasilan transisi ini tidak hanya bergantung pada teknologinya, melainkan juga pada edukasi yang mampu membangun kepercayaan dan pemahaman masyarakat agar dapat memanfaatkan teknologi ini secara maksimal," kata Mahaendra Gofar, Selasa (4/8/2026). Diskusi tersebut menunjukkan bahwa aspek keselamatan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi. Selain pengembangan teknologi, edukasi mengenai keamanan baterai, cara penggunaan kendaraan, serta kesiapan ekosistem dinilai menjadi kunci untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap teknologi PHEV.