Rencana pemerintah memberikan insentif kendaraan listrik pada 2026 terus menjadi perhatian pelaku industri otomotif termasuk Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo). Salah satu yang masih dibahas ialah skema pemberian insentif berdasarkan jenis baterai kendaraan listrik. Sebelumnya, pemerintah berencana memberikan insentif pembelian kendaraan listrik melalui skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Besarannya disebut berada pada kisaran 40 persen hingga 100 persen, tergantung jenis kendaraan dan baterai yang digunakan. Ilustrasi baterai mobil listrik Insentif Berdasarkan Tiga Poin Pemerintah dikabarkan mempertimbangkan pemberian insentif lebih besar untuk kendaraan listrik berbasis baterai nikel atau MCN (Mangan Kobal Nikel) sebagai bagian dari upaya mendukung hilirisasi industri nikel nasional. Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Masyarakat dan Edukasi Periklindo, Achmad Rofiqi, menilai kebijakan insentif sebaiknya tidak hanya berfokus pada jenis material baterai, melainkan juga memperhatikan aspek efisiensi dan keamanan. “Kalau untuk baterai, sebenarnya yang dibutuhkan adalah baterai yang lebih ringan, dengan kemampuan jelajah lebih jauh, dan lebih aman. Saya rasa tiga poin ini yang harus dikejar,” kata Rofiqi kepada Kompas.com, belum lama ini Menurut dia, pemberian insentif akan lebih tepat jika mempertimbangkan kualitas dan manfaat baterai bagi pengguna kendaraan listrik. “Misalkan dengan tiga poin ini yang bisa dibandingkan tadi ya, berbasis nikel atau lithium, kalau saya bilang malah berarti tiga penilaian. Jadi baterai yang mendapatkan insentif misalkan adalah baterai kendaraan yang lebih ringan, lebih murah, dan juga lebih aman, itu akan lebih adil,” ujarnya. Baterai mobil listrik MG “Kenapa? Karena yang diuntungkan nantinya juga konsumen akhir,” kata dia. Selain itu, Rofiqi juga menyoroti pentingnya aspek keamanan baterai kendaraan listrik. Menurut dia, kasus kebakaran kendaraan listrik tidak selalu disebabkan oleh jenis baterai semata. “Sedangkan kalau kita lihat, beberapa kejadian juga memang ada yang disebabkan kelalaian dari pihak produsen dalam kontrol kualitas, terkait kejadian kebakaran dan lain-lain. Yang kedua adalah perilaku dari pengguna. Yang ketiga, kesalahan dari ekosistem pengisian dayanya,” ujarnya. Ia menambahkan, faktor eksternal seperti kecelakaan juga dapat memicu gangguan pada sistem baterai kendaraan listrik. Ilustrasi baterai mobil listrik GAC “Dan yang keempat keadaan, misalnya saat tabrakan terjadi benturan. Tidak langsung terbakar di lokasi, tetapi beberapa hari kemudian tiba-tiba korsleting lalu terbakar,” kata Rofiqi. Karena itu, menurut dia, pengembangan teknologi baterai yang lebih aman perlu menjadi perhatian utama dalam pemberian insentif kendaraan listrik. “Nah, aspek keamanan ini juga penting. Makanya tadi saya bilang, baterai yang lebih tahan, seperti yang misalnya teman-teman di BYD bikin baterai blade lalu diuji ditembus, itu kan menunjukkan sisi keamanannya. Kita sebagai pengguna dan masyarakat juga jadi lebih aman,” ujarnya. Insentif Harus Adil Rofiqi menilai, pemerintah masih memiliki banyak aspek lain yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menyusun kebijakan insentif kendaraan listrik. Ilmuwan China kembangkan baterai mobil listrik dari plastik tahan suhu ekstrem. “Itu memang salah satu pertimbangannya, ketimbang kita memilih jenis baterai A atau B yang diberikan insentif,” kata dia. “Masih banyak hal lain yang menurut saya lebih adil, karena membuat kebijakan itu harus melihat sisi keadilannya,” ujar Rofiqi. Ia juga menyinggung kesiapan industri baterai nasional yang menurutnya masih dalam tahap pengembangan. “Kalau misalnya seperti itu, sekarang kita lihat, sudah ada belum pabrik baterai yang memproduksi jenis nikel di Indonesia saat ini? Belum ada. Sedangkan kita sendiri masih dalam tahap perkembangan seperti itu,” kata Rofiqi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang