Konversi sepeda motor bahan bakar minyak menjadi motor listrik merupakan salah satu solusi untuk mempercepat penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia. CEO Indomobil Emotor, Pius Wirawan, menilai proses konversi tidak bisa dilakukan sembarangan karena menyangkut banyak komponen kelistrikan yang memiliki standar tertentu. Pius menekankan bahwa aspek keselamatan tetap harus menjadi perhatian utama. “Banyak risiko yang bisa muncul," kata Pius yang ditemui di Jakarta, Kamis (12/3/2026). "Paling mudah kita lihat dari amper pada kabel. Jika kabel dengan amper rendah kemudian digunakan untuk charger dengan kapasitas lebih tinggi, kabelnya bisa meleleh," uajr Pius. Dukung Program Elektrifikasi, Puluhan Siswa SMK Lakukan Konversi Motor Listrik Menurut Pius, perbedaan standar dan kualitas pengerjaan antar bengkel menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan motor listrik konversi. Tanpa standar yang jelas, hasil konversi bisa berbeda-beda dari sisi performa maupun keselamatan. "Secara teknis mungkin saja dipasang, tapi pertanyaannya apakah itu aman. Faktor keselamatan harus menjadi prioritas, terutama pada motor listrik," katanya. "Belum lagi soal standar seperti IP67. Salah satu alasan orang menggunakan motor listrik adalah untuk melewati banjir. Sementara dari sisi struktur, motor bensin sebenarnya tidak dipersiapkan untuk itu," kata Pius. Bengkel konversi motor listrik di Solo, bisa mengajukan subsidi Rp 10 juta dari pemerintah "Karena itu banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari insulasi, sistem kelistrikan, sampai jenis kabel yang digunakan, yang memang berbeda,” ujarnya. Selain itu, menurut Pius, terlepas dari standarisasi dan tingkat keamanan, hal perlu diperhatikan ialah skala ekonomi. Melakukan konversi bisa jadi menghabiskan biaya yang lebih besar dari motor listrik baru pabrikan. "Jadi ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Kalau bicara soal skala ekonomi atau keterjangkauan komponen, saat ini komponen untuk konversi masih cukup mahal. Sebab volumenya belum mencapai skala ekonomi," katanya. "BLDC-nya (motor listrik/dinamo), baterainya, kontrolnya, kabelnya, masing-masing komponen itu mahal karena pembeliannya masih sedikit-sedikit," ujar Pius. "Belum lagi konsumen sering punya permintaan berbeda-beda. Ada yang ingin merek tertentu, ada yang membawa komponen sendiri, misalnya kontroler dibawa sendiri untuk dipasang di bengkel," katanya. Paket konversi motor listrik Di Indonesia, konversi motor bensin menjadi motor listrik sebenarnya sudah diatur pemerintah melalui Permenhub Nomor PM 39 Tahun 2023 tentang Konversi Sepeda Motor dengan Penggerak Motor Bakar menjadi Sepeda Motor Listrik Berbasis Baterai. Program ini berada di bawah pengawasan Kementerian Perhubungan dan hanya boleh dilakukan oleh bengkel yang memiliki sertifikasi resmi. Setelah proses konversi selesai, kendaraan wajib menjalani uji tipe atau uji kelayakan untuk memastikan sistem kelistrikan, baterai, serta komponen lain aman digunakan di jalan. Jika dinyatakan lulus, status kendaraan akan diperbarui sehingga tercatat sebagai motor listrik pada dokumen resmi seperti STNK. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang