Menjelang arus mudik Lebaran 2026, keselamatan pemudik, khususnya pengguna sepeda motor, menjadi perhatian karena tingginya risiko kecelakaan pada perjalanan jarak jauh. Wakil Ketua Komisi V DPR Syaiful Huda meminta polisi untuk membatasi jumlah warga yang mudik menggunakan sepeda motor pada Lebaran 2026. Hal ini menyusul tingginya angka kecelakaan yang melibatkan pemudik motor dalam beberapa tahun terakhir. "Saya mencatat, sejak tahun 2022 hingga tahun 2025 yang lalu, ada presentasi yang cukup tinggi sekali, di mana tingkat kecelakaan mudik 75,9 persen itu kecelakaan yang dialami oleh para pemudik pengguna sepeda motor. Jadi angka ini cukup tinggi sekali," kata Huda di dikutip dari Kompas.com. Huda menekankan, potensi kecelakaan pada pemotor ini bisa ditekan dengan memfasilitasi pemudik yang menggunakan sepeda motor melalui program mudik gratis. Sementara itu, Ketua Bidang Road Safety and Motorsport Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Victor Assani, mengatakan, apa yang disampaikan pejabat pemerintah sudah sangat bijak. Ilustrasi mudik dengan motor. Ia menilai imbauan tersebut tidak sepenuhnya melarang masyarakat mudik menggunakan sepeda motor, tetapi lebih kepada mengingatkan risiko perjalanan jarak jauh dengan kendaraan roda dua. “Karena memang, kita harus memahami berbagai alasan para pemudik untuk menentukan jenis pilihan transportasi untuk mudik berdasarkan berbagai pertimbangan mereka, seperti kepraktisan, waktu, biaya, mobilitas ketika di kampung halaman sampai dengan katakanlah persoalan pride. Siapa sih yang tidak ingin merasakan mudik dengan nyaman? Saya yakin semua pemudik menginginkan itu. Namun kembali lagi ke berbagai alasan tadi, sehingga mereka tetap memutuskan untuk mudik menggunakan sepeda motor, ini realita di lapangan,” kata Victor kepada Kompas.com, Senin (9/3/2026). Ia menambahkan, jika pemudik tetap memutuskan menggunakan sepeda motor, maka persiapan harus dilakukan dengan sangat matang, baik dari sisi kendaraan maupun kondisi fisik pengendara. “Kalaupun para pemudik terpaksa tetap mudik menggunakan sepeda motor, maka kami menghimbau untuk benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang seperti kendaraan, fisik pemudik, berbagai kelengkapan sampai dengan cara berkendara yang aman,” kata Victor. “Ini serius lho, karena yang namanya mudik itu identik dengan jarak, medan, ketahanan yang tidak seperti biasa sehingga selain yang saya sebut sebelumnya juga perlu diperhatikan persoalan beban muatan termasuk dimensinya,” lanjut Victor. Ia juga menjelaskan bahwa sebagai langkah antisipasi dan mitigasi, sebagian besar anggota AISI menyediakan berbagai fasilitas bagi pemudik di sepanjang jalur mudik. “Di samping itu, sebagai langkah antisipasi dan mitigasi, sebagian besar anggota kami juga menyediakan bengkel-bengkel maupun posko siaga yang tersebar di sepanjang jalur mudik yang tidak hanya berfungsi sebagai layanan darurat kendaraan tetapi juga layanan istirahat, relaksasi maupun keperluan-keperluan pribadi pemudik selama dalam perjalanan. Kami berharap ini dapat membantu meningkatkan keamanan dan kenyamanan para pemudik menuju kampung halamannya,” kata Victor. Selain itu, beberapa anggota AISI juga mengadakan program mudik bersama untuk membantu pemudik yang membawa sepeda motor. “Beberapa anggota kami juga ada yang menyiasati dengan mengadakan mudik bersama, di mana sepeda motor akan diangkut oleh truk, sementara pemudik sendiri dapat dengan nyaman menggunakan bus-bus yang telah disediakan,” kata Victor.