Ketidakpastian mengenai kelanjutan subsidi motor listrik menjadi salah satu faktor yang membuat pasar kendaraan listrik roda dua mengalami perlambatan. Hal inilah yang dirasakan pelaku industri, bahkan sampai pertengahan 2026. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menyebut konsumen cenderung menahan pembelian karena masih berharap pemerintah kembali memberikan insentif. Kondisi tersebut membuat calon pembeli memilih menunggu dibandingkan langsung membeli motor listrik dengan harga normal. Booth motor listrik Rakata di pameran PEVS 2024 Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi mengatakan, sepanjang awal hingga pertengahan 2025, pemerintah masih sempat menyampaikan adanya kemungkinan subsidi motor listrik kembali diberikan. Namun, kepastian mengenai program tersebut tidak kunjung muncul. Pernyataan dari sejumlah menteri terkait subsidi juga membuat konsumen semakin menunggu keputusan pemerintah. "Kemudian nanti pertengahan (tahun) bicara lagi para Menteri, bicara lagi. Nah, itu dampaknya efeknya juga cukup besar. Artinya, 2025 kan tidak ada kepastian," ujar Budi, kepada Kompas.com belum lama ini. Keseruan pengunjung Jakarta Fair 2023 yang mencoba melakukan cek penerima subsidi motor listrik Rp 7 juta dari pemerintah Konsumen Pilih Hold Buying Menurut Budi, ketidakpastian tersebut berdampak langsung terhadap pasar. Konsumen yang sebenarnya sudah memiliki rencana membeli motor listrik akhirnya memilih menunda transaksi dengan harapan mendapatkan harga yang lebih murah melalui subsidi. "Jadi pasarnya stuck atau kita katakan dengan hold buying, berhenti penjualan, karena masyarakat nunggu saja nanti ada subsidi, nunggu ada insentif," ucap Budi. Kondisi perlambatan tersebut masih terlihat pada 2026. Hingga Agustus, penjualan motor listrik baru mencapai belasan ribu unit. Ada subsidi motor listrik dari Yadea selama Jakarta Fair 2023 Budi menilai capaian tersebut menjadi perhatian bagi industri karena masih jauh dibandingkan penjualan pada tahun-tahun sebelumnya. "Dan ironi memang, tahun 2026 sampai dengan bulan Agustus, ini baru mencapai hampir 19.000 unit. Ini adalah data penjualan motor listrik berdasarkan data SRUT yang dikeluarkan Kemenhub," ujar Budi. SPK Motor Listrik Batal Tidak adanya subsidi pada 2025 juga membuat sebagian calon konsumen yang sebelumnya sudah menunjukkan minat bahkan menahan atau membatalkan pembelian. Gimik subsidi Rp 7 juta untuk pembelian motor listrik di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2023 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (19/2/2023). Gimik tersebut diberikan sama saja dengan potongan harga atau diskon. Pasalnya, regulasi insentif motor listrik belum resmi dikeluarkan pemerintah. "Nah, tahun 2025 enggak ada (subsidi motor listrik) sama sekali, itu manufaktur garuk-garuk. Yang tadinya sudah SPK enggak jadi, banyak yang nunggu dulu," kata Budi. Bagi industri, kondisi tersebut menjadi tantangan karena investasi dan kapasitas produksi yang telah disiapkan tidak selalu diikuti permintaan aktual. Di tengah perlambatan pasar, Budi menilai pelaku industri tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan subsidi pemerintah. Produsen juga perlu semakin agresif dalam mengembangkan produk dan menawarkan inovasi yang mampu menarik perhatian konsumen.