Pemerintah tengah mendorong pengembangan Motor Listrik Nasional (Molinas) sebagai bagian dari upaya membangun industri kendaraan listrik di dalam negeri. Program tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan Indonesia memproduksi motor listrik, tetapi juga menyangkut harga dan daya beli masyarakat yang menjadi target pengguna. Pengamat transportasi Darmaningtyas menilai, aspek keterjangkauan menjadi salah satu tantangan utama jika motor listrik nasional nantinya ditujukan untuk masyarakat pengguna sepeda motor. Menurut dia, masyarakat yang menggunakan sepeda motor merupakan kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi berbeda dengan konsumen mobil. Karena itu, harga kendaraan menjadi pertimbangan utama sebelum membeli. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto "Nah, kalau mereka tadi harus sewa baterai sampai, misalnya Rp juta sampai Rp 7 juta. Ya, mereka mikir-mikirlah. Mereka akan mikir dua kali, ngapain sampai segitu, mending beli motor yang BBM. Jadi, bukan soal harganya pantasnya berapa," ujar Darmaningtyas, saat dihubungi Kompas.com, Senin (17/8/2026). Molinas Harus Menjawab Kebutuhan Pengguna Menurut Darmaningtyas, pengembangan Molinas seharusnya tidak berhenti pada kemampuan memproduksi motor listrik di dalam negeri. Kendaraan tersebut juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang memang menjadi target pasar sepeda motor. Jika biaya kepemilikannya masih tinggi, motor listrik nasional dikhawatirkan justru sulit menjangkau kelompok pengguna terbesar. "Ngapain memproduksi motor listrik yang, satu, tetap akan menyumbang kemacetan. Kedua, belum tentu terjangkau oleh kelompok pengguna motor," kata Darmaningtyas. Presiden Prabowo Subianto dalam peluncuran motor listrik nasional (Molinas) di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Pernyataan tersebut menjadi catatan bagi pengembangan Molinas. Sebab, salah satu tujuan menghadirkan motor listrik nasional adalah menyediakan kendaraan yang dapat digunakan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia. Jika harga motor listrik masih terlalu tinggi atau terdapat biaya tambahan yang membebani konsumen, masyarakat bisa kembali memilih sepeda motor bermesin bensin yang dinilai lebih familiar dan memiliki pasar bekas yang sudah terbentuk. Harga Jadi Pertimbangan Utama Darmaningtyas mengatakan, konsumen sepeda motor memiliki sejumlah pertimbangan ketika memilih kendaraan. Harga menjadi faktor pertama yang diperhatikan, kemudian biaya perawatan dan nilai jual kembali. Test ride motor listrik Alva N3 "Orang yang beli motor itu orang yang tidak mampu beli mobil, karena itu ketika mereka memutuskan jenis motor apa yang akan dibeli, pasti yang pertama harganya terjangkau," ujar Darmaningtyas. Karena itu, menurut dia, motor listrik nasional perlu memiliki struktur biaya yang sesuai dengan kemampuan masyarakat pengguna sepeda motor. Tidak hanya harga pembelian, skema kepemilikan baterai juga perlu diperhitungkan. Jika konsumen harus membayar biaya sewa baterai secara berkala, komponen tersebut akan menjadi bagian dari total biaya yang harus dikeluarkan selama menggunakan kendaraan. Polytron Fox 350 Pertimbangan berikutnya adalah biaya pemeliharaan. Konsumen sepeda motor, kata Darmaningtyas, cenderung mencari kendaraan yang biaya perawatannya rendah.