Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia akan segera memiliki motor listrik nasional yang akan diperkenalkan dalam beberapa pekan mendatang. Prabowo juga berharap setiap petani di Indonesia nantinya dapat memiliki motor listrik sebagai sarana mobilitas sehari-hari. “Saya akan launching beberapa minggu ini, motor listrik nasional. Saya berharap nanti petani-petani kita minimal naik motor. Motor listrik,” kata Prabowo, saat menghadiri Panen Raya Bersama TNI di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jumat (17/7/2026). Presiden RI Prabowo Subianto saat sedang memberikan pidato dalam Panen Raya bersama TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/6/2026). Pernyataan Presiden yang berharap para petani minimal menggunakan sepeda motor listrik memunculkan pertanyaan: apakah kendaraan listrik memang sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi petani? Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai pernyataan tersebut tidak tepat dibaca sebagai asumsi bahwa petani saat ini membutuhkan motor listrik. Ribuan unit sepeda motor listrik milik Badan Gizi Nasional (BGN) tampak disegel di sebuah gudang penyimpanan di kawasan industri Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/6/2026) “Pernyataan Presiden bahwa diharapkan para petani minimal naik motor listrik, lebih tepat dibaca sebagai sebuah pesan khusus kepada para pembantu presiden, untuk segera melakukan peningkatan kesejahteraan dan kemandirian energi hingga ke level motor pertumbuhan ketahanan pangan kita, yakni para petani,” ujar Martin, kepada Kompas.com (18/7/2026). Menurut dia, pesan tersebut lebih ditujukan kepada jajaran pemerintah agar pembangunan ekosistem kendaraan listrik tidak hanya berpusat di kota-kota besar. Wapres Gibran Kunjungi Pabrik Motor Listrik United di Tangerang Infrastruktur Desa Jadi Tantangan Martin menegaskan, kesiapan ekosistem sepeda motor listrik harus menjangkau wilayah perdesaan. Artinya, pemerintah perlu memastikan infrastruktur listrik rumah tangga di desa memadai untuk mendukung pengisian daya kendaraan listrik. Selain itu, layanan purnajual juga harus tersedia di daerah perdesaan agar petani tidak kesulitan ketika kendaraan mengalami kerusakan. “Dan harus ada skema pembiayaan yang kompetitif,” kata Martin. Tiga motor listrik baru VinFast di Indonesia Belum Berorientasi Pasar Martin juga mengingatkan adanya risiko kebijakan jika petani dijadikan alasan utama program motor listrik. “Di sini ada satu lapisan lagi yang perlu dicatat sebagai risiko kebijakan. Jika petani dijadikan justifikasi, jalur distribusinya hampir pasti pengadaan pemerintah atau program bantuan, bukan market driven,” kata dia. Menurutnya, jika petani dijadikan sasaran utama program, maka distribusi kendaraan listrik berpotensi lebih banyak mengandalkan pengadaan pemerintah atau skema bantuan, sehingga adopsinya terjadi karena intervensi negara, bukan karena permintaan alami konsumen.