Harga motor listrik zaman sekarang perlahan mulai ramah di kantong. Jika sebelumnya mulai Rp 30 jutaan, saat ini bisa dibeli dengan harga belasan juta Rupiah. Namun, keberlanjutan transisi motor bensin ke motor listrik di segmen middle-low sangat bergantung pada solusi purnajual yang dihadirkan oleh produsen. Pengamat otomotif Yannes Martinus menilai, kecemasan konsumen terhadap tingginya biaya penggantian baterai dan anjloknya nilai jual kembali harus dijawab industri lewat terobosan garansi. Baterai motor listrik Gesits Raya G, yang jadi salah satu contoh baterai litium. Kecemasan Biaya Baterai dan Nilai Jual Kembali Yannes menjelaskan bahwa strategi harga murah belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan struktural masyarakat. Salah satu kekhawatiran terbesar konsumen saat meminang motor listrik adalah potensi beban finansial di kemudian hari jika baterai rusak. "Ada kecemasan terhadap biaya penggantian baterai yang nilainya cukup besar dibanding harga kendaraan," ujar Yannes saat dihubungi Kompas.com, Selasa (25/8/2026). Pentingnya Garansi yang Boleh Dipindahtangankan Untuk memecah kebuntuan tersebut, Yannes mendorong pelaku industri otomotif menawarkan skema jaminan baterai jangka panjang yang transparan. Garansi tersebut idealnya tetap mengikat meskipun unit kendaraan telah berpindah kepemilikan. "Dalam jangka menengah, garansi baterai jangka sangat panjang, bahkan lifetime warranty dengan syarat penggunaan yang transparan dan dapat dialihkan ke pemilik berikutnya, bisa menjadi instrumen penting," ungkapnya. Langkah ini dinilai tak hanya menekan keraguan pembeli pertama, tetapi juga otomatis membangun kepercayaan dan kestabilan harga pada pasar kendaraan listrik bekas. Ekosistem Purnajual Jadi Penentu Utama Yannes mengingatkan, berbagai insentif dari pemerintah sejatinya baru berfungsi sebagai pemantik transaksi di awal. Ujung tombak dari keberhasilan adopsi kendaraan listrik tetap berada pada kesiapan ekosistem purnajual yang dibangun oleh industri. "Karena itu strategi pemerintah memang kuat sebagai katalis pembelian awal, tetapi keberlanjutannya akan sangat ditentukan oleh ekosistem purnajualnya kelak," kata Yannes.