Perkiraan harga motor listrik nasional di kisaran Rp 18 jutaan hingga opsi tanpa uang muka (DP) diakui mampu memicu minat awal masyarakat. Namun, adopsi masif di segmen middle-low dinilai masih membentur persoalan struktural, terutama posisi sepeda motor sebagai aset likuid. Pengamat otomotif Yannes Martinus menjelaskan, bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, motor bukan sekadar sarana mobilitas harian, melainkan aset yang sewaktu-waktu dapat dicairkan menjadi uang tunai saat terdesak kebutuhan harian. Ilustrasi jual beli motor listrik bekas. "Nah, dengan belum terbentuknya pasar motor listrik bekas dan ketidakpastian resale value karena usia baterai membuat konsumen lebih berhati-hati," ujar Yannes saat dihubungi Kompas.com, Selasa (25/8/2026). Daya Listrik Rumah dan Biaya Penggantian Baterai Selain masalah pasar sekunder, keterbatasan daya listrik rumah tangga di pemukiman padat penduduk juga menjadi ganjalan teknis. Mengingat sekitar 80 persen aktivitas pengisian daya idealnya dilakukan di rumah, kondisi keterbatasan daya membuat metode home charging kurang praktis. "Sehingga jaringan battery swap di kawasan padat menjadi penting," tegas Yannes. Di sisi lain, konsumen juga dibayangi kekhawatiran akan besarnya biaya penggantian baterai jika masa pakainya habis atau mengalami penurunan performa. "Ada kecemasan terhadap biaya penggantian baterai yang nilainya cukup besar dibanding harga kendaraan," lanjutnya. Garansi "Lifetime" Jadi Kunci Pasar Bekas Yannes menekankan bahwa kemudahan skema pembiayaan dari pemerintah memang kuat sebagai pemicu pembelian awal. Namun, keberlanjutan transisi kendaraan listrik sangat bergantung pada kesiapan ekosistem purnajualnya. VinFast memperkuat jaringan showroom dan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia untuk mendorong adopsi motor listrik di tengah besarnya pasar kendaraan roda dua nasional. Dalam jangka menengah, ia menyarankan produsen kendaraan listrik memberi terobosan berupa garansi baterai jangka panjang yang dapat dipindahtangankan ke pemilik berikutnya. "Garansi baterai jangka sangat panjang, bahkan lifetime warranty dengan syarat penggunaan yang transparan dan dapat dialihkan ke pemilik berikutnya, bisa menjadi instrumen penting karena sekaligus menekan kekhawatiran biaya baterai dan membantu membentuk kepercayaan terhadap pasar sekunder," kata Yannes. Menurutnya, pembenahan ekosistem dan pembuktian ketahanan produk di pasar bekas pada akhirnya memerlukan waktu.