Nama Sunra mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Namun, di negara asalnya, China, merek ini merupakan salah satu pemain besar di industri sepeda motor listrik. Sunra merupakan bagian dari Xin Ri Group yang bermarkas di Wuxi, China. Berdiri sejak 1999, perusahaan ini bergerak di bidang riset, pengembangan, produksi, dan penjualan kendaraan listrik. Di pasar domestik, Sunra diklaim masuk dalam jajaran lima besar produsen sepeda motor listrik dengan penjualan terbesar. Komisaris Sunra Indonesia, Ismeth Wibowo mengatakan, posisi tersebut membuat Sunra percaya diri memperluas bisnisnya ke Indonesia yang dinilai memiliki prospek besar untuk kendaraan listrik. Komisaris Sunra Indonesia Ismeth Wibowo "Sunra ini adalah suatu merek motor listrik yang sudah lama sekali di China. Terus terang saja, di China itu kami masuk dalam lima besar," kata Ismeth di Jakarta, Jumat (24/7/2026). "Pabrik pusat kami berada di Kota Wuxi, China, dan juga di kota-kota besar lainnya seperti Shanghai, Guangzhou, dan lain-lain," ujarnya. Ismeth megatakan, Sunra mulai masuk ke Indonesia sekitar dua tahun lalu. Namun pada 2023, perusahaan sudah menyatakan komitmennya untuk berinvestasi di Indonesia sebagai bagian dari ekspansi di Asia Tenggara. Setahun kemudian, Sunra mengumumkan pembangunan pabrik sepeda motor listrik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah. TKDN Untuk memperkuat posisinya di pasar nasional, Sunra juga telah memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Motor listrik Sunra Ismeth mengungkap, saat ini, produk Sunra telah memiliki TKDN sebesar 42 persen, lebih tinggi dari syarat minimum pemerintah sebesar 40 persen jika ingin dapat insentif. "Kami sudah mencapai TKDN, alhamdulillah, 42 persen. Syarat dari pemerintah 40 persen," katanya. "Waktu itu pemerintah mensyaratkan TKDN tersebut agar subsidi Rp 7 juta bisa diberikan pada zaman Pak Jokowi, untuk merek yang sudah memiliki pabrik perakitan di Indonesia," katanya. Sunra, kata Ismeth tidak hanya mengimpor motor listrik utuh dari China. Perusahaan juga sudah merakit produknya di Indonesia sebagai bagian dari strategi jangka panjang. "Saat itu kami langsung merakit. Jadi kami bukan hanya membawa motor ke sini untuk dijual, tetapi juga merakit di sini. Rencana kami akan memiliki pabrik perakitan sendiri," ujar Ismeth. Motor listrik Sunra Meski demikian, hingga saat ini proses perakitan masih dilakukan melalui perusahaan mitra. "Tapi saat ini, kami masih memaklonkan perakitan motor listrik kami di pabrik partner kami yang namanya Yifang, Pak. Yifang di Balaraja Barat, perusahaan dari China juga. Jadi kami masih maklon," katanya. Pabrik di Kendal Sebagai bagian dari investasi jangka panjang, Ismeth mengatakan, Sunra telah menyiapkan lahan untuk membangun pabrik sendiri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah. Pabrik tersebut akan berdiri di atas lahan seluas 12,7 hektare. Fasilitas dirancang untuk menangani seluruh proses produksi, mulai dari perakitan, reparasi, pengecatan, hingga pengembangan baterai. Motor listrik Sunra "Kami sudah beli tanah seluas 12,7 hektare. Itu untuk perakitan, reparasi, pengecatan, semuanya, termasuk baterai. Jadi lokasinya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah," katanya. Ismeth mengatakan, pembangunan pabrik akan dipercepat jika pemerintah resmi mengumumkan kebijakan insentif baru bagi pembelian motor listrik. "Secepat mungkin. Nanti begitu pemerintah mengumumkan secara resmi insentif diberikan, Rp 5 juta per unit, kita ngebut," ujarnya. Apabila telah beroperasi penuh, pabrik tersebut ditargetkan mampu memproduksi hingga 1 juta unit motor listrik setiap tahun. "Rencana kami nanti kapasitas produksi 1 juta unit per tahun," katanya.